MORFEM.ID, SAMARINDA – Perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia di Samarinda menjadi momentum bagi Kerukunan Warga Buton Lapandewa Kaindea Matanasurumba Samarinda (Keraton Kainmas) untuk mempererat silaturahmi sekaligus mempertahankan warisan budaya leluhur.
Kegiatan tersebut juga bertepatan dengan peringatan HUT ke-40 Keraton Kainmas. Suasana syukuran diisi dengan doa bersama yang diikuti warga sebagai bentuk ungkapan terima kasih sekaligus penghormatan kepada para tokoh yang telah lebih dahulu membangun kebersamaan dan kerukunan komunitas Buton di Samarinda.
Koordinator Presidium Keraton Kainmas, La Miru, mengatakan tradisi syukuran dan doa bersama telah menjadi bagian dari perjalanan organisasi yang terus dipertahankan hingga kini.
“Doa ini kita tujukan kepada para tokoh dan pendahulu yang telah lebih dulu meninggalkan kita. Mereka adalah orang-orang yang merintis kebersamaan dan kerukunan warga,” ujar La Miru, Senin (17/8/2026).
Menurutnya, doa bersama juga menjadi kesempatan bagi warga untuk mengenang jasa para pendahulu sekaligus memanjatkan doa agar mereka mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, diterima amal ibadahnya dan diampuni segala kesalahannya.
Tak hanya kegiatan keagamaan, peringatan tersebut turut menjadi ruang bagi masyarakat Buton untuk memperkenalkan dan mempertahankan identitas budaya di tengah kehidupan masyarakat Samarinda yang beragam.
Nuansa budaya terlihat dari hidangan tradisional yang disajikan dalam kegiatan. Berbagai makanan berbahan umbi-umbian turut dihadirkan sebagai bagian dari tradisi kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kesenian tradisional juga mendapat tempat dalam rangkaian acara. Tarian Linda ditampilkan sebagai salah satu bentuk ekspresi budaya Buton sekaligus upaya memperkenalkan kesenian daerah kepada generasi muda.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sejumlah agenda lainnya, termasuk pertunjukan silat dan badenda atau malam badenda yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Buton.
La Miru mengatakan pelaksanaan kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai rutinitas tahunan. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi sarana untuk menjaga hubungan antarwarga sekaligus memastikan nilai-nilai budaya tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Harapannya bukan hanya bersyukur, tetapi juga menjaga tradisi, budaya, kebersamaan dan kerukunan warga. Kita juga berdoa agar seluruh masyarakat diberi kesehatan, rezeki yang lancar, umur yang panjang serta dijauhkan dari segala marabahaya,” tukasnya. (RD)







Tinggalkan Balasan