MORFEM.ID, SAMARINDA – Fenomena El Nino berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim). Kondisi cuaca yang lebih panas dan berkurangnya curah hujan membuat lahan menjadi lebih kering dan mudah terbakar.
Akademisi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mulawarman (Unmul), Riezdqhy Amalina Farahiyah Al Husna, mengatakan karakter El Nino di Kaltim memiliki perbedaan dibandingkan sejumlah wilayah Indonesia lainnya.
Menurutnya, Kaltim masih memiliki curah hujan yang relatif tinggi. Namun, kehadiran El Nino membuat intensitas hujan cenderung menurun sehingga kondisi lingkungan menjadi lebih kering dari biasanya.
“Curah hujan kita masih cukup tinggi dibandingkan wilayah lainnya, tetapi intensitasnya akan lebih berkurang dibandingkan biasanya,” ujar Amalina saat dikonfirmasi Morfem.id, Selasa (11/8/2026).
Selain berkurangnya curah hujan, El Nino juga menyebabkan tutupan awan berkurang. Kondisi tersebut membuat sinar matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi sehingga suhu udara meningkat.
Peningkatan suhu dan kondisi lahan yang semakin kering menjadi kombinasi yang perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan potensi terjadinya karhutla.
Amalina, yang memiliki fokus keahlian di bidang klimatologi, pemetaan, dan mitigasi bencana, menilai ancaman karhutla di Kaltim perlu mendapat perhatian serius. Pasalnya, wilayah ini memiliki kawasan hutan dan lahan gambut yang menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar.
Ketika hutan maupun lahan gambut terbakar, karbon dalam jumlah besar dapat terlepas ke atmosfer. Pelepasan tersebut berkontribusi terhadap peningkatan gas rumah kaca dan memperburuk pemanasan global.
“Ketika hutan atau lahan gambut terbakar, baik disengaja maupun tidak, tentunya akan melepaskan karbon yang masif ke udara,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat membentuk siklus yang merugikan. Pemanasan global dan perubahan iklim dapat memicu cuaca yang semakin ekstrem, sementara kebakaran hutan dan lahan kembali menghasilkan emisi karbon yang memperburuk perubahan iklim.
Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu memperkuat regulasi dan komitmen dalam menghadapi perubahan iklim, termasuk melakukan pencegahan karhutla sejak dini.
Upaya tersebut penting dilakukan tidak hanya ketika kebakaran terjadi, tetapi juga dengan menjaga kawasan hutan dan lahan gambut agar tidak semakin rentan terhadap kekeringan dan kebakaran.
Selain berdampak terhadap lingkungan, cuaca ekstrem yang berkaitan dengan perubahan iklim juga dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi lainnya di Kaltim, seperti kekeringan, banjir, longsor, dan abrasi.
Amalina menegaskan, perubahan iklim perlu diantisipasi melalui riset dan penguatan data, terutama untuk mengetahui wilayah serta kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak.
Dengan kondisi El Nino yang meningkatkan suhu dan mengurangi intensitas hujan, kewaspadaan terhadap karhutla di Kaltim dinilai perlu ditingkatkan, terutama selama periode cuaca panas dan kering. (RD)







Tinggalkan Balasan