MORFEM.ID, SAMARINDA – Kampung Tenun dan Kampung Ketupat di Samarinda Seberang dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata berbasis budaya. Namun, DPRD Samarinda menilai potensi tersebut perlu didukung penataan kawasan yang mampu menonjolkan ciri khas masing-masing kampung.
Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Viktor Yuan, mengatakan identitas sebuah kawasan wisata tidak cukup dibangun melalui kegiatan ekonomi maupun tradisi masyarakat. Karakter visual kawasan juga perlu diperkuat agar wisatawan dapat mengenali destinasi sejak pertama kali berkunjung.
Menurut Viktor, Kampung Tenun yang berada di Jalan Pangeran Bendahara memiliki keunggulan berupa aktivitas pembuatan sarung Samarinda. Sementara Kampung Ketupat di Jalan Mangkupalas dapat mengangkat kekayaan kuliner lokal yang berkembang di kawasan tepian Sungai Mahakam.
“Di Kampung Tenun, pengunjung bisa melihat proses pembuatan sarung Samarinda. Kampung Ketupat juga punya potensi dari sisi kuliner. Dua kawasan ini sebenarnya punya karakter yang kuat untuk dikembangkan,” ujarnya, Senin (31/8/2026).
Ia menilai karakter tersebut perlu diterjemahkan dalam bentuk penataan lingkungan yang lebih mudah dikenali. Tidak harus seluruh bangunan diubah, tetapi ornamen atau ikon khas dapat ditempatkan pada sejumlah titik strategis.
Viktor mencontohkan Kampung Tenun dapat memperbanyak elemen visual yang berkaitan dengan sarung Samarinda. Dengan begitu, masyarakat maupun wisatawan yang datang bisa langsung memahami identitas kawasan tersebut.
“Kalau orang datang ke sana, dari tampilannya saja seharusnya sudah bisa mengetahui bahwa itu Kampung Tenun. Ornamen sarung Samarinda bisa menjadi salah satu penanda kawasan,” katanya.
Konsep serupa, lanjut dia, dapat diterapkan di Kampung Ketupat. Penataan kawasan bisa diarahkan untuk memperkuat kesan sebagai sentra kuliner sekaligus destinasi budaya tanpa harus bergantung pada pembangunan fisik yang besar.
Menurutnya, kekuatan visual tersebut nantinya juga dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari promosi wisata. Kawasan yang memiliki ciri khas kuat akan lebih mudah dikenali, didokumentasikan, dan diingat oleh pengunjung.
“Begitu orang masuk ke Kampung Ketupat, harus langsung muncul kesan bahwa ini memang Kampung Ketupat. Identitas seperti itu yang perlu kita bangun,” tuturnya.
Namun, Viktor mengingatkan pengembangan wisata budaya tidak cukup hanya dengan mempercantik kawasan. Masyarakat setempat sebagai pelaku utama juga harus dipersiapkan agar mampu mengelola sekaligus memperoleh manfaat dari perkembangan sektor pariwisata.
Pembinaan sumber daya manusia dinilai penting, terutama bagi pelaku usaha, pengrajin dan masyarakat yang terlibat langsung dalam aktivitas wisata. Dengan demikian, peningkatan kunjungan wisatawan dapat memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar.
“Kalau kita ingin serius mengembangkan wisata budaya di Samarinda, penataan visual harus berjalan bersama dengan pembinaan sumber daya manusianya. Jangan hanya kawasannya yang dibangun, tetapi masyarakatnya juga harus diperkuat,” pungkas Viktor. (RD/Adv)







Tinggalkan Balasan