MORFEM.ID, SAMARINDA – Dampak kekeringan terhadap sektor pertanian di Kota Samarinda terus meluas. Lebih dari 80 hektare lahan kini dilaporkan mengalami kekurangan air dan berpotensi mengalami gagal panen, sementara tanaman hortikultura mulai ikut terdampak.
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Samarinda, Dwi Rahmi Adiaty, mengatakan luasan tersebut merupakan hasil pendataan dari sejumlah wilayah, berdasarkan laporan petani serta koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda.
Menurutnya, wilayah terdampak tidak hanya berada di kawasan Serayu, Kelurahan Tanah Merah. Sejumlah lahan pertanian di lokasi lain juga mulai mengalami kondisi serupa.
“Data yang kami terima saat ini lebih dari 80 hektare. Bukan hanya di Tanah Merah, tetapi juga ada di beberapa kelurahan lain berdasarkan laporan langsung dari petani,” ujar Dwi belum lama ini.
Sebelumnya, BPBD Samarinda mencatat sekitar 50 hektare lahan pertanian di kawasan Serayu, Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Samarinda Utara mengalami kekeringan. Lahan tersebut berisiko gagal panen apabila tidak segera mendapatkan tambahan pasokan air.
Dwi menjelaskan, dampak kekeringan terhadap tanaman padi berbeda-beda karena kondisi pertumbuhan tanaman di setiap lahan tidak sama. Sebagian tanaman sudah memasuki masa panen, sementara lainnya masih membutuhkan air untuk menyelesaikan proses pengisian bulir.
“Sebagian tanaman padi sudah mulai dipanen. Tetapi ada juga yang masih dalam proses pengisian bulir dan kondisinya terdampak kekeringan,” katanya.
Ancaman kekurangan air juga mulai dirasakan petani hortikultura, khususnya yang menanam berbagai jenis sayuran. Meski demikian, lahan hortikultura di Samarinda umumnya memiliki luasan yang lebih kecil dan tersebar di sejumlah lokasi sehingga penanganannya dapat dilakukan secara lebih spesifik.
Salah satu alternatif yang tengah dipertimbangkan pemerintah adalah memanfaatkan sumber air dari sumur. Selain itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian juga mengkaji kemungkinan memberikan bantuan pompa serta selang untuk membantu distribusi air ke lahan pertanian.
“Kami sedang mempertimbangkan bantuan berupa pompa dan selang. Tetapi tetap harus dilihat apakah di sekitar lokasi ada sumber air yang bisa dimanfaatkan,” jelas Dwi.
Ia mengatakan penanganan tidak bisa diseragamkan karena setiap lokasi memiliki kondisi berbeda. Pemerintah masih melakukan pembahasan bersama instansi terkait untuk menentukan langkah yang paling memungkinkan bagi petani di masing-masing wilayah.
“Kalau memang ada sumur yang bisa digunakan, tentu bisa menjadi salah satu solusi. Untuk langkah berikutnya masih kami koordinasikan bersama pihak terkait,” terangnya.
Selain mengancam hasil panen petani lokal, kondisi cuaca panas yang diperkirakan masih berlangsung juga dikhawatirkan memengaruhi pasokan sayuran dari wilayah perkebunan yang selama ini menjadi salah satu sumber kebutuhan pangan Samarinda.
“Yang menjadi perhatian kami adalah pasokan sayuran dari daerah perkebunan yang selama ini menyuplai kebutuhan Samarinda. Kalau kekeringan meluas, tentu bisa berdampak,” pungkas Dwi. (RD)







Tinggalkan Balasan