MORFEM.ID, SAMARINDA – Keributan sempat mewarnai pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Mulawarman (Unmul) 2026 saat Rektor Unmul hendak memberikan sambutan dihadapan seluruh mahasiswa baru.
Insiden tersebut dipicu oleh penyampaian aspirasi sejumlah mahasiswa terkait berbagai isu kampus, mulai dari polemik Presiden BEM KM Unmul yang bertemu dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo, besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT), hingga kondisi fasilitas kampus yang dinilai perlu diperbaiki.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni (WR III) Unmul, Prof. Moh. Bahzar, mengatakan peristiwa tersebut terjadi di luar skenario dan di luar pengetahuan panitia pelaksana PKKMB.
“Keributan itu di luar skenario kami dan di luar pengetahuan kami. Kemungkinan terjadi karena adanya penyampaian aspirasi BEM Fakultas Hukum Unmul terkait tindakan Hiththan yang bertemu dengan Jokowi. Selain itu, berbagai aspirasi, seperti persoalan UKT yang mahal dan fasilitas gedung yang perlu direnovasi turut di sampaikan,” ujar Bahzar saat di konifrmasi Morfem.id, Selasa (4/8/2026).
Bahzar mengatakan pihak universitas juga telah mengetahui adanya kekecewaan sebagian mahasiswa terkait persoalan Hiththan. Namun, ia menegaskan hal tersebut bukan merupakan keputusan maupun kehendak pihak universitas dan jajaran rektorat.
“Yang ada hanya spanduk-spanduk berisi aspirasi. Itu adalah hak mereka dalam berdemokrasi,” katanya.
Ia menjelaskan, sejak awal pihak universitas telah merancang pelaksanaan PKKMB agar hanya diikuti sekitar 25 persen dari total lebih dari 6.500 mahasiswa baru secara langsung, sementara sisanya mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom.
Konsep tersebut disusun setelah Unmul melakukan studi banding ke Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Namun, dalam rapat persiapan bersama BEM KM, muncul usulan agar kegiatan pembukaan dilaksanakan di lapangan dan dihadiri seluruh mahasiswa baru.
“Seluruh BEM KM kami libatkan dalam rapat. Mereka menghendaki kegiatan dilaksanakan di lapangan. Baik, kami mengikuti keinginan mereka. Tapi kenapa setelah itu justru kami yang disalahkan?” ungkapnya.
Menurut Bahzar, berbagai permintaan mahasiswa juga telah dipenuhi oleh pihak universitas. Mulai dari penyediaan tenda dan tempat berteduh, area UKM Expo, stan organisasi mahasiswa, meja-meja fasilitas, hingga dokumentasi menggunakan drone.
“Dari awal sebenarnya kami ingin pelaksanaannya seperti upacara. Tetapi ada permintaan dari BEM KM agar disediakan tenda dan tempat berteduh. Semua itu sudah kami penuhi. Mereka juga meminta video drone, tenda untuk BEM KM, UKM Expo, tempat membuka stan, dan meja-meja. Semua kami siapkan, tetapi ternyata tidak semuanya dimanfaatkan,” jelasnya.
Ia menegaskan pihak universitas telah mengeluarkan anggaran serta mengerahkan tenaga dan pikiran untuk memenuhi kebutuhan pelaksanaan PKKMB. Karena itu, ia berharap mahasiswa tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga memberikan solusi.
“Jangan hanya mengkritik, tetapi berikan juga solusi. Hargailah Unmul ini. Kalau bangga dengan Unmul, cintailah Unmul. Sambutlah masa depan dengan harmonisasi, jangan dengan sesuatu yang emosional. Belajarlah menjadi pemimpin masa depan, jangan selalu menyalahkan,” tegasnya.
Bahzar juga berharap peningkatan infrastruktur kampus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, fasilitas seperti pendingin ruangan, sistem ventilasi, tempat duduk, hingga sarana pendukung lainnya perlu ditingkatkan agar kegiatan yang melibatkan ribuan mahasiswa dapat berlangsung lebih nyaman.
“Ini menjadi tantangan bagi seluruh stakeholder untuk mengubah paradigma pembangunan fasilitas ke depan agar menjadi lebih baik. Itulah harapan saya,” tutupnya. (RD)







Tinggalkan Balasan