MORFEM.ID, SAMARINDA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur (Kaltim) melaporkan tiga jemaah haji asal Kaltim meninggal dunia saat menjalankan rangkaian ibadah haji 2026 di Arab Saudi.
Kondisi kesehatan yang telah dimiliki sebelumnya serta tingginya suhu udara di Tanah Suci disebut menjadi faktor yang memengaruhi kondisi para jemaah.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, mengungkapkan hingga awal Juni 2026 pihaknya menerima laporan mengenai tiga jemaah asal Kaltim yang wafat selama musim haji berlangsung.
“Data yang kami terima sampai sekarang mencatat ada tiga jemaah asal Kaltim yang meninggal dunia,” ujar Jaya, Jumat (5/6/2026).
Berdasarkan hasil pemantauan, sebagian jemaah yang meninggal memiliki riwayat penyakit yang berisiko tinggi, seperti gangguan jantung dan tuberkulosis (TB). Selain itu, usia lanjut turut menjadi faktor yang memperberat kondisi kesehatan mereka di tengah cuaca panas ekstrem.
Menurut Jaya, salah satu jemaah dilaporkan meninggal akibat serangan jantung. Mayoritas jemaah yang wafat juga masuk kategori lanjut usia dan memiliki penyakit penyerta sebelum keberangkatan.
Ia menegaskan seluruh calon jemaah haji telah menjalani pemeriksaan kesehatan sesuai prosedur sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi.
Bahkan, mereka yang memiliki riwayat penyakit tetap diperbolehkan berangkat setelah dinyatakan layak secara medis dan kondisi kesehatannya terkendali.
“Dari hasil evaluasi yang kami lakukan, memang ada beberapa jemaah dengan risiko kesehatan tertentu. Namun saat pemeriksaan, kondisi mereka masih dalam batas yang dapat dikendalikan sehingga memenuhi syarat untuk berangkat,” jelasnya.
Jaya mencontohkan terdapat jemaah yang memiliki riwayat TB, namun telah menyelesaikan pengobatan sehingga secara medis tidak lagi menjadi hambatan untuk menunaikan ibadah haji.
Meski demikian, suhu udara yang mencapai sekitar 45 derajat Celsius selama musim haji tahun ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi jemaah lansia maupun mereka yang memiliki penyakit kronis.
“Banyak yang memperkirakan cuaca tahun ini lebih sejuk dibanding sebelumnya, tetapi kenyataannya suhu di Arab Saudi masih sangat tinggi. Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap daya tahan tubuh jemaah,” katanya.
Karena itu, ia meminta tim kesehatan yang bertugas mendampingi jemaah untuk terus melakukan pemantauan secara berkala terhadap seluruh peserta haji, baik yang sedang sakit maupun yang tampak sehat.
Menurutnya, perubahan kondisi kesehatan bisa terjadi secara mendadak tanpa gejala yang terlihat sebelumnya. Ia mencontohkan adanya jemaah yang tiba-tiba kehilangan kesadaran saat hendak melaksanakan salat.
“Ada kasus jemaah yang mendadak pingsan sebelum salat. Sebagian meninggal di Madinah dan sebagian lainnya di Makkah. Ini menunjukkan bahwa kondisi kesehatan bisa berubah dengan cepat, terutama pada kelompok berisiko tinggi,” terangnya.
Peristiwa tersebut, lanjut Jaya, menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggaraan ibadah haji pada tahun-tahun mendatang. Pendampingan terhadap jemaah yang memiliki penyakit penyerta perlu diperkuat agar risiko kesehatan dapat diminimalkan.
“Kami menilai pengawasan terhadap jemaah dengan risiko tinggi harus semakin ditingkatkan sehingga kondisi mereka bisa terus dipantau selama menjalankan ibadah,” tambahnya.
Meski terdapat tiga kasus kematian, Dinkes Kaltim menilai pelaksanaan pelayanan kesehatan haji tahun ini berjalan cukup baik. Bahkan, jumlah jemaah yang meninggal disebut lebih rendah dibandingkan beberapa musim haji sebelumnya.
“Jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, angka kematian tahun ini relatif lebih rendah. Ini menunjukkan pelayanan dan perhatian terhadap kesehatan jemaah semakin baik,” tutur Jaya.
Selain itu, pihaknya juga menerima laporan adanya sejumlah jemaah yang mengalami gangguan kesehatan ringan, seperti influenza. Namun secara umum kondisi jemaah haji asal Kaltim masih dalam kategori terkendali.
“Beberapa jemaah memang mengalami flu, tetapi secara keseluruhan kondisi kesehatan jemaah Kaltim masih cukup baik. Semoga tidak ada tambahan kasus yang lebih serius,” tukasnya. (RD)







Tinggalkan Balasan