MORFEM.ID, SAMARINDA * – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di berbagai wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga mulai dirasakan dampaknya oleh dunia usaha.
Gangguan pasokan listrik dinilai memperlambat kegiatan ekonomi dan meningkatkan biaya operasional bagi para pelaku usaha.
Pengamat ekonomi Kaltim, Purwadi Purwoharsojo, mengatakan kondisi tersebut tidak bisa dianggap sebagai persoalan biasa. Menurutnya, setiap kali listrik padam, berbagai aktivitas usaha ikut terhenti sehingga berpotensi menimbulkan kerugian.
Ia menepis anggapan bahwa roda perekonomian tetap berjalan normal selama pemadaman berlangsung. Menurut Purwadi, hampir seluruh sektor yang bergantung pada listrik ikut menerima dampaknya.
“Kalau ada yang bilang tidak terdampak, itu bohong. Sektor ekonomi pasti terpukul,” kata Purwadi saat dikonfirmasi Morfem.id, Jumat (3/7/2026).
Purwadi menjelaskan, keberadaan listrik saat ini telah menjadi kebutuhan utama yang tidak kalah penting dibandingkan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) maupun air bersih. Karena itu, gangguan pasokan listrik secara langsung memengaruhi produktivitas masyarakat dan dunia usaha.
Ia menyebut dampaknya dirasakan mulai dari sektor industri hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Banyak kegiatan usaha tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya karena peralatan operasional bergantung pada aliran listrik.
Sebagai contoh, usaha jasa fotokopi harus menghentikan pelayanan ketika listrik padam, padahal kebutuhan masyarakat untuk mencetak dokumen tetap tinggi.
Kondisi serupa juga dialami sektor komunikasi karena berbagai perangkat elektronik tidak dapat digunakan meski jaringan internet masih tersedia.
Menurut Purwadi, usaha laundry, rumah makan, hingga sektor perbankan juga menghadapi persoalan yang sama. Pelaku usaha yang memiliki generator set (genset) memang masih bisa beroperasi, namun harus menanggung tambahan biaya untuk membeli solar sebagai bahan bakar.
“Perbankan, usaha laundry yang dikejar tenggat baju pengantin, sampai rumah makan, semua kena pukul. Kalau rumah makan punya genset, mereka harus keluar biaya ekstra untuk solar yang harganya mahal. Siklusnya jadi makin berat,” ujarnya.
Ia berharap persoalan pasokan listrik di Kaltim dapat segera dibenahi sehingga aktivitas ekonomi masyarakat tidak terus terganggu.
“Kestabilan listrik menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga produktivitas pelaku usaha dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” tukasnya. (RD)







Tinggalkan Balasan