MORFEM.ID, SAMARINDA – Kondisi ekonomi petani di Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan tren positif sepanjang Mei 2026.
Hal itu tercermin dari peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 150,68 atau tumbuh 0,57 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, kenaikan NTP mengindikasikan bahwa pendapatan yang diperoleh petani meningkat lebih cepat dibandingkan pengeluaran yang harus mereka tanggung.
Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, menyebutkan bahwa Indeks Harga yang Diterima Petani (It) mengalami kenaikan sebesar 1,30 persen. Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) tercatat naik lebih rendah, yakni 0,73 persen.
“Peningkatan NTP terjadi karena pertumbuhan harga yang diterima petani lebih tinggi dibandingkan kenaikan biaya yang mereka keluarkan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (8/6/2026).
Saat menjelang Hari Raya Iduladha beberapa waktu lalu terjadi kenaikan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok, daya beli petani di Kaltim tetap terjaga.
Beberapa komoditas seperti beras, minyak goreng, dan cabai merah mengalami peningkatan harga akibat tingginya permintaan masyarakat serta faktor distribusi dan pasokan.
Secara regional, capaian NTP Kaltim menempati posisi kedua tertinggi di Kalimantan. Provinsi Kalimantan Barat masih berada di peringkat pertama dengan NTP sebesar 178,38.
Sementara Kalimantan Tengah mencatat angka 139,72, Kalimantan Selatan 131,24, dan Kalimantan Utara 117,88.
Kenaikan NTP Kaltim terutama didorong oleh subsektor hortikultura yang tumbuh 2,87 persen selama Mei 2026. Selain itu, subsektor peternakan meningkat 1,17 persen, tanaman perkebunan rakyat naik 0,31 persen, dan tanaman pangan bertambah 0,27 persen.
Di sisi lain, subsektor perikanan menjadi satu-satunya sektor yang mengalami penurunan dengan kontraksi sebesar 0,67 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kinerja sektor pertanian belum dirasakan secara merata oleh seluruh pelaku usaha primer.
BPS juga melaporkan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Kaltim pada Mei 2026 mencapai 157,02 atau meningkat 0,46 persen dibandingkan April 2026.
Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas usaha pertanian masih mampu memberikan keuntungan meskipun biaya produksi terus mengalami kenaikan.
Tingginya NTP Kaltim turut ditopang oleh subsektor perkebunan rakyat yang mencatat angka sangat tinggi, yakni 211,89.
Capaian itu memperlihatkan bahwa sektor pertanian masih memiliki peran penting dalam menopang perekonomian masyarakat di wilayah pedesaan.
Meski demikian, pengendalian harga kebutuhan pokok dan biaya produksi tetap menjadi perhatian agar peningkatan kesejahteraan petani dapat terus terjaga dalam jangka panjang. (RD)






Tinggalkan Balasan