MORFEM.ID, SAMARINDA – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Timur (Kaltim) diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan telur dan daging ayam dalam jumlah besar.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena produksi telur lokal saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan daerah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim, Fadli Sufiani, mengungkapkan bahwa kapasitas produksi telur di Kaltim baru mampu memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan pasar. Artinya, masih terdapat kekurangan pasokan hingga 60 persen yang harus dipenuhi dari luar daerah.
Menurut Fadli, peningkatan kebutuhan telur salah satunya dipicu oleh seiring sudah berjalannya ratusan dapur MBG di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ia memperkirakan setiap dapur MBG mampu memproduksi sekitar 3.000 porsi makanan per hari. Saat ini, jumlah SPPG di Kaltim disebut telah mencapai 372 unit. Dengan kapasitas tersebut, kebutuhan telur untuk satu kali penyajian menu MBG diperkirakan dapat mencapai sekitar 1,1 juta butir.
“Jika konsumsi telur diberikan dua kali dalam sepekan sesuai rencana, maka kebutuhan bisa mencapai sekitar 2,2 juta butir telur dalam seminggu,” terangnya, Jumat (29/5/2026).
Selain telur, kebutuhan daging ayam juga diprediksi meningkat signifikan. Berdasarkan perhitungan DPKH Kaltim, jika setiap porsi mengandung sekitar 104 gram daging ayam, maka kebutuhan untuk satu kali penyajian dapat mencapai hampir 169 ton.
“Apabila menu berbahan daging ayam disajikan dua kali dalam satu minggu, maka kebutuhan tersebut akan meningkat menjadi dua kali lipat,” jelasnya.
Karena itu kata Fadli, pemerintah daerah menilai perlu adanya langkah strategis untuk memperkuat produksi pangan asal unggas di daerah.
Sebagai solusi jangka panjang, Kaltim akan mendapatkan proyek pengembangan industri ayam terintegrasi yang diinisiasi oleh Danantara. Program tersebut didukung pendanaan dari pemerintah pusat dengan nilai investasi sekitar Rp1 triliun.
Dalam rencana tersebut, akan dibangun 14 fasilitas pendukung industri perunggasan yang meliputi satu unit Parent Stock (PS) dan hatchery (penetasan telur), empat unit fasilitas pembesaran ayam petelur (pullet).
Kemudian, enam unit Rumah Potong Unggas (RPU), satu pabrik pakan, satu fasilitas pengolahan daging, serta satu fasilitas pengolahan telur.
Fadli menilai keberadaan fasilitas tersebut akan membantu meningkatkan kemampuan produksi daerah, baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara umum maupun kebutuhan program MBG yang terus berkembang.
Ia menjelaskan bahwa fokus utama proyek tersebut adalah memperkuat sektor produksi telur. Sementara itu, untuk produksi ayam potong di Kaltim dinilai masih dalam kondisi surplus berkat keberadaan sejumlah perusahaan besar yang telah beroperasi di daerah.
Meski demikian, persoalan pakan ternak masih menjadi perhatian utama. Menurutnya, ketersediaan pakan merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan pengembangan industri perunggasan di masa mendatang.
“Prioritas yang ingin kami dorong dalam pembangunan hilirisasi ini adalah sektor pakan, karena itu masih menjadi tantangan utama yang perlu diperkuat,” tukasnya. (RD)






Tinggalkan Balasan