MORFEM.ID, SAMARINDA – Kota Samarinda mencatat tingkat inflasi sebesar 2,92 persen dan menjadi daerah dengan inflasi tertinggi di Kalimantan Timur.
Meski begitu, Pemerintah Kota Samarinda memastikan kondisi tersebut masih dalam kategori aman karena tetap berada dalam target inflasi nasional sebesar 1,5 hingga 3,5 persen.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda, Nurrahmani mengatakan tingginya inflasi di Samarinda dipengaruhi besarnya ketergantungan pasokan bahan pokok dari luar daerah yang mencapai sekitar 75 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat harga kebutuhan pokok di Samarinda sangat dipengaruhi situasi daerah pemasok, mulai dari cuaca, hasil panen, hingga biaya distribusi.
“Kalau daerah pemasok mengalami gagal panen atau ongkos angkut naik, tentu berdampak juga ke Samarinda,” ujar Yama sapaannya saat dikonfirmasi Morfem.id, Senin (25/5/2026).
Selain faktor domestik, pihaknya juga menyoroti dampak konflik di Timur Tengah yang dinilai berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi global, terutama harga energi dan biaya logistik.
Konflik tersebut dikhawatirkan dapat memicu kenaikan harga minyak dunia yang berdampak langsung pada ongkos transportasi dan distribusi barang ke daerah, termasuk Samarinda.
Nurrahmani menyampaikan bahwa, jika biaya angkut meningkat, harga kebutuhan pokok di pasaran juga berpotensi ikut mengalami kenaikan.
“Kondisi global tentu ikut kami pantau karena bisa berdampak terhadap distribusi dan biaya transportasi,” kata dia.
Pemerintah Kota Samarinda bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus melakukan pemantauan harga harian di pasar tradisional maupun retail modern untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan. (RD)







Tinggalkan Balasan