MORFEM.ID, SAMARINDA – Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Perdagangan (Disdag) mengakui aktivitas di Pasar Pagi yang baru belum merata. Di satu sisi, masih ada kios yang sepi pembeli, namun di sisi lain terdapat pedagang yang tetap ramai dan rutin menerima pasokan barang dagangan.
Kepala Disdag Kota Samarinda, Nurrahmani, mengatakan kondisi tersebut merupakan hal yang wajar mengingat Pasar Pagi masih berada dalam tahap penyesuaian setelah menempati gedung baru.
“Ini masih pasar baru. Memang ada pedagang yang ramai, ada juga yang masih sepi. Kalau dibilang semuanya sepi, tidak juga. Buktinya masih banyak barang dagangan yang setiap hari masuk melalui lift untuk mengisi kios-kios yang tetap berjualan,” ujarnya saat di konfirmasi via telepon oleh Morfem.id, Rabu (29/7/2026).
Nurrahmani menjelaskan, salah satu penyebab belum ramainya aktivitas pasar karena masih ada kios yang belum ditempati atau pemiliknya belum aktif berjualan. Kondisi itu dinilai turut memengaruhi jumlah pengunjung yang datang.
Karena itu, Disdag berencana melakukan evaluasi terhadap para pemegang kios. Hingga akhir Agustus mendatang, pihaknya akan berkomunikasi dengan pedagang yang belum aktif berjualan.
Apabila memang tidak berminat melanjutkan usaha di Pasar Pagi, kios tersebut akan dialihkan kepada pedagang lain yang siap berjualan.
“Kami akan melakukan komunikasi dengan para pedagang. Kalau memang tidak berminat lagi berjualan, kiosnya akan kami tarik dan diberikan kepada pedagang yang benar-benar ingin berjualan. Karena ini merupakan aset milik Pemerintah Kota, bukan investasi pribadi,” jelasnya.
Selain melakukan penataan kios, Disdag juga menyiapkan berbagai upaya untuk meningkatkan jumlah pengunjung. Salah satunya dengan menggandeng pengelola maupun pihak lain untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan atau event di area publik Pasar Pagi.
Menurut Nurrahmani, penyelenggaraan kegiatan tersebut diharapkan mampu menarik masyarakat datang sehingga aktivitas perdagangan ikut meningkat.
“Sudah ada pembahasan dengan pengelola untuk menghadirkan event di area publik pasar, bukan di lorong-lorong kios. Kami juga membuka kesempatan bagi komunitas atau pihak lain yang ingin mengadakan kegiatan di sana,” katanya.
Ia menambahkan, rencana kegiatan tersebut sebelumnya sempat dikaitkan dengan peringatan Hari Kemerdekaan. Namun konsep pelaksanaannya masih terus dimatangkan agar benar-benar mampu menarik minat masyarakat.
Di sisi lain, Nurrahmani menilai kondisi ekonomi yang sedang melambat juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya beli masyarakat. Menurutnya, situasi tersebut tidak bisa sepenuhnya dikaitkan dengan keberadaan gedung Pasar Pagi yang baru.
“Kondisi ekonomi saat ini memang sedang tidak mudah. Ada pengaruh efisiensi anggaran dan daya beli masyarakat yang menurun. Jadi bukan semata-mata karena lokasi atau bangunan pasarnya,” ujarnya.
Meski demikian, Disdag memastikan akan terus melakukan berbagai langkah untuk menghidupkan aktivitas perdagangan di Pasar Pagi. Penataan kios yang belum aktif serta penyelenggaraan berbagai kegiatan diharapkan dapat meningkatkan jumlah pengunjung dan mendorong perputaran ekonomi para pedagang.
“Kami tidak ingin menyerah dengan kondisi yang ada. Justru kami terus mencari cara agar Pasar Pagi semakin ramai dan para pedagang bisa berjualan dengan lebih baik,” tutup Nurrahmani. (RD)







Tinggalkan Balasan