MORFEM.ID, SAMARINDA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda memastikan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat masih dapat dipenuhi dengan baik meski distribusi tenaga kesehatan antarwilayah belum sepenuhnya seimbang.
Ketersediaan dokter, perawat, bidan, hingga tenaga kefarmasian dinilai masih mencukupi untuk melayani hampir 900 ribu penduduk Kota Samarinda.
Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama di Samarinda telah memenuhi standar minimal sumber daya manusia kesehatan yang ditetapkan pemerintah. Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung tetap optimalnya pelayanan kepada masyarakat.
Menurutnya, setiap puskesmas wajib memiliki sejumlah profesi tenaga kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku, mulai dari dokter, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, hingga apoteker.
“Untuk pelayanan kesehatan dasar masih terpenuhi. Seluruh puskesmas telah memenuhi ketentuan minimal tenaga kesehatan sebagaimana yang diatur dalam regulasi,” kata Ismed, Kamis (4/6/2026).
Ia menjelaskan, status Samarinda sebagai pusat pendidikan dan layanan kesehatan di Kaltim memberikan keuntungan tersendiri dalam pemenuhan kebutuhan tenaga medis.
Kehadiran berbagai institusi pendidikan kesehatan dan fasilitas layanan kesehatan membuat ketersediaan tenaga profesional relatif lebih mudah dibandingkan sejumlah daerah lain di provinsi ini.
Selain memastikan kecukupan tenaga kesehatan, pemerintah kota juga terus berupaya meningkatkan kualitas sarana dan prasarana kesehatan. Salah satunya melalui penguatan layanan di rumah sakit milik daerah, termasuk RSUD IA Moeis, guna menyesuaikan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Samarinda tahun 2025 yang mengacu pada data Kementerian Kesehatan, jumlah tenaga kesehatan di Kota Samarinda mencapai 4.571 orang. Rinciannya terdiri dari 1.233 dokter, 2.291 perawat, 555 bidan, 409 tenaga kefarmasian, serta 83 tenaga gizi.
Jumlah tersebut dinilai masih memadai untuk melayani populasi Samarinda yang pada 2026 diperkirakan berada pada kisaran 888 ribu hingga 900 ribu jiwa.
Meski demikian, Dinkes mengakui masih terdapat tantangan terkait pemerataan tenaga kesehatan. Sebagian besar tenaga medis masih terkonsentrasi di wilayah yang menjadi pusat pelayanan kesehatan dan pendidikan, terutama Kecamatan Samarinda Ulu.
Data menunjukkan Samarinda Ulu memiliki jumlah tenaga kesehatan yang jauh lebih besar dibanding kecamatan lain, dengan 583 dokter, 1.248 perawat, 172 bidan, 199 tenaga kefarmasian, dan 37 tenaga gizi.
Sementara itu, beberapa wilayah memiliki jumlah tenaga kesehatan yang relatif lebih sedikit. Kecamatan Sungai Pinang misalnya tercatat memiliki 13 dokter, 15 perawat, 14 bidan, enam tenaga kefarmasian, dan satu tenaga gizi. Sedangkan Kecamatan Sambutan memiliki 10 dokter, 22 perawat, 18 bidan, tujuh tenaga kefarmasian, dan empat tenaga gizi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena berpengaruh terhadap pemerataan akses layanan kesehatan bagi masyarakat di berbagai kecamatan.
Meski distribusi tenaga kesehatan belum sepenuhnya merata, Dinkes Samarinda menegaskan pelayanan kesehatan bagi warga tetap berjalan sesuai standar yang ditetapkan.
Pemerintah juga terus melakukan berbagai langkah penguatan sistem kesehatan untuk memastikan kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah dapat terpenuhi.
“Ketersediaan tenaga kesehatan di Samarinda secara umum masih mencukupi untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat,” ujar Ismed.
Dengan dukungan ribuan tenaga kesehatan serta pengembangan fasilitas pelayanan yang terus dilakukan, Samarinda dinilai masih memiliki kapasitas yang memadai untuk menghadapi peningkatan kebutuhan layanan kesehatan seiring bertambahnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun. (RD)







Tinggalkan Balasan