MORFEM.ID, SAMARINDA – Keterlibatan generasi muda dalam dunia politik terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, sejumlah pengamat menilai semangat perubahan yang dibawa anak muda kerap terhambat oleh kuatnya pengaruh oligarki politik dan ekonomi di Indonesia.
Fenomena tersebut terlihat dari semakin banyaknya anak muda yang masuk ke partai politik maupun mencalonkan diri dalam pemilihan legislatif dan kepala daerah. Meski membawa gagasan baru, banyak di antara mereka akhirnya harus menyesuaikan diri dengan kepentingan elite partai dan kelompok pemodal.
Pegiat Hukum Tata Negara dan salah satu pendiri Constitutional and Administrative Law Society (CALS), Bivitri Susanti, mengatakan sistem politik Indonesia masih sangat bergantung pada kekuatan modal dan jaringan elite.
“Anak muda ketika masuk dalam politik akan tergilas dengan elite, dan dinasti,” ungkap Bivitri dalam webinar nasional yang digelar Pusdiksi Hukum Unmul dan CALS, tentang Refleksi 28 tahun reformasi ketatanegaraan Indonesia, Kamis (21/5/2026).
Anak muda yang masuk politik sering kali datang dengan idealisme. Namun, ketika berada di dalam sistem, mereka menghadapi realitas biaya politik yang tinggi dan dominasi elite yang sudah mengakar.
Apalagi tambah Bivitri, realitas kepemimpinan di institusi-institusi hari ini merupakan orang-orang lama dari masa orde baru.
“Perlu ada mekanisme pengawasan partai politik. Selama tidak ada mekanisme pengawasan dan kaderisasi yang baik, maka selama itu pula anak muda yang masuk politik akan tergilas dengan elite,” terangnya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat sebagian politisi muda sulit mempertahankan independensi. Tidak sedikit yang akhirnya mengikuti pola lama demi mempertahankan posisi politiknya.
Data dari sejumlah lembaga pemantau demokrasi menunjukkan biaya kampanye yang besar menjadi salah satu hambatan utama bagi politisi muda. Minimnya akses pendanaan membuat mereka bergantung pada dukungan tokoh berpengaruh atau kelompok pemodal tertentu.
Kendati demikian, seejumlah kalangan menilai keterlibatan anak muda tetap penting untuk mendorong pembaruan politik. Kehadiran generasi muda dinilai dapat membawa isu-isu baru seperti transparansi, lingkungan hidup, ekonomi digital, hingga reformasi birokrasi.
Pengamat menilai reformasi internal partai politik menjadi salah satu langkah penting untuk membuka ruang lebih besar bagi generasi muda.
Selain itu, transparansi pendanaan politik dan pendidikan politik dinilai perlu diperkuat agar anak muda tidak mudah terseret kepentingan oligarki.
“Pendidikan politik itu menjadi pondasi utama,” tukasnya.
Di tengah meningkatnya partisipasi generasi muda dalam politik nasional, tantangan terbesar bukan hanya memenangkan pemilu, tetapi juga menjaga idealisme ketika berada di dalam lingkar kekuasaan.







Tinggalkan Balasan