MADINAH – Gelombang pertama jemaah haji Indonesia telah tiba di Madinah, Arab Saudi, menandai dimulainya rangkaian ibadah haji 2026.
Melansir KOMPAS.com, namun, di balik momen haru menginjakkan kaki di Tanah Suci, pemerintah langsung mengeluarkan imbauan penting kepada jemaah haji yaitu menjaga kondisi kesehatan, membatasi aktivitas, dan tidak memaksakan diri—terutama bagi calon haji lanjut usia.
Pada hari pertama kedatangan, sebanyak 5.997 calon haji yang tergabung dalam 15 kelompok terbang (kloter) tiba secara bertahap melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah, hingga pukul 22.55 waktu setempat, Rabu (22/4/2026).
Ribuan calon haji tersebut berasal dari berbagai embarkasi di Indonesia, di antaranya Yogyakarta, Jakarta, Medan, Lombok, Solo, dan Makassar.
Kedatangan ini menjadi fase awal adaptasi bagi jemaah sebelum memasuki rangkaian ibadah yang lebih padat di Makkah pada puncak haji mendatang.
Konsul Jenderal Republik Indonesia di Jeddah, Yusron B. Ambary, mengatakan sebagian besar anggota jemaah haji Indonesia tahun ini merupakan warga lanjut usia.
Kondisi ini membuat aspek kesehatan menjadi prioritas utama sejak hari pertama kedatangan.
“Jemaah diharapkan selalu menjaga kesehatan dan tidak memaksakan diri, mengingat rangkaian ibadah haji masih panjang,” ujar Yusron, seperti dilansir laman resmi Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), Kamis (23/4/2026).
Ia menekankan, stamina jemaah harus dijaga sejak awal agar mampu menjalani puncak ibadah haji pada Mei mendatang dengan optimal.
Aktivitas yang berlebihan, terutama di tengah kondisi cuaca panas, berisiko menurunkan daya tahan tubuh.
Karena itu, jemaah diimbau untuk mengatur ritme ibadah dan istirahat secara seimbang, bukan hanya mengejar intensitas ibadah di hari-hari awal.
Selain faktor usia, kondisi cuaca di Madinah juga menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah. Suhu yang cenderung tinggi dan udara kering berpotensi menyebabkan dehidrasi hingga kelelahan.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah Khalilurrahman mengimbau jemaah untuk menggunakan pelindung diri saat beraktivitas di luar ruangan.
“Jemaah diimbau menggunakan payung, kacamata, masker, serta alas kaki yang nyaman. Selain itu, penting untuk rutin minum air, sekitar dua hingga tiga teguk setiap 20-30 menit,” katanya.
Ia juga menyarankan penggunaan tabir surya (sunscreen) dan pelembap bibir untuk mengurangi dampak paparan sinar matahari langsung.
Imbauan ini menjadi krusial mengingat fase di Madinah merupakan masa adaptasi sebelum jemaah menjalani rangkaian ibadah yang lebih berat di Makkah.
Di tengah tantangan tersebut, kabar baik datang dari sisi pelayanan. Sebagian jemaah mendapatkan fasilitas hotel yang sangat dekat dengan Masjid Nabawi.
Lebih dari 2.500 anggota jemaah dari lima kloter pertama tercatat menempati hotel dengan jarak sekitar 50 meter dari masjid, tepatnya di dekat pintu 330.
Lokasi strategis ini memudahkan jemaah, khususnya lansia dan penyandang disabilitas, untuk beribadah dan berziarah, termasuk mengakses Raudhah.
Kedekatan jarak ini dinilai sebagai salah satu peningkatan layanan signifikan yang berdampak langsung pada kenyamanan jemaah.
Perubahan juga terjadi dalam sistem pelayanan haji tahun ini, salah satunya terkait distribusi kartu Nusuk.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya kartu tersebut dibagikan setelah jemaah tiba di Arab Saudi, kini sudah diberikan sejak di Indonesia.
Setibanya di hotel, pihak penyelenggara hanya memberikan sosialisasi terkait penggunaan kartu tersebut.
Skema ini dinilai lebih efisien dan mempermudah jemaah dalam mengakses berbagai layanan selama di Tanah Suci.
Digitalisasi layanan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas penyelenggaraan haji secara keseluruhan.
Pemerintah berharap, dengan disiplin menjaga kondisi sejak awal dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia, jemaah dapat menjalani seluruh rangkaian ibadah haji 2026 dengan aman, nyaman, dan khusyuk hingga puncaknya di Tanah Suci. (RD)







Tinggalkan Balasan