MORFEM.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah mencapai 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi geopolitik global di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, hingga data ekonomi AS dinilai menjadi faktornya.
Melansir Liputan6.com, Analis Paaar Uang sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi penguatan indeks dolar AS. Terutama adanya faktor dari memanasnya perang AS dan Iran.
“Selain gejolak Timteng dan harga minyak yang masih di level tinggi, Ini juga karena data ekonomi AS yang masih bagus sehingga menurunkan peluang Bank Sentral AS untuk memangkas suku bunga acuannya tahun ini,” kata Ariston kepada Liputan6.com, Jumat (15/5/2026).
Dia mengatakan, data penjualan ritel AS menunjukkan kenaikan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal ini menandai perbaikan ekonomi di Negeri Paman Sam.
“Indeks dolar AS sudah menguat 1,18% sejak penutupan Jumat pekan lalu dari 97.84 ke area 90.00 pagi ini,” katanya.
Dia memprediksi, pelemahan nilai tukar rupiah masih akan terjadi jika perang AS-Iran berkepanjangan. Namun, pelemahan tak hanya terjadi pada rupiah, melainkan mata uang negara lainnya terhadap dolar AS.
“Hari ini kelihatannya semua nilai tukar melemah terhadap dolar AS. Selama gejolak Timur Tengah belum reda dengan kenaikan harga minyak mentah, rupiah masih dalam tekanan,” jelas dia.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) makin tertekan. Pada Jumat, (15/5/2026), rupiah menyentuh posisi 17.600 per dolar AS. Adapun analis prediksi, salah satu faktor pelemahan rupiah dipicu geopolitik global.
Berdasarkan data google finance Jumat pagi, rupiah sempat tembus 17.612 per dolar AS. Kemudian bergerak di kisaran 17.579.
Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) disinyalir masih terdampak oleh kondisi geopolitik global. Perang yang memanas antara AS dan Iran di Timur Tengah terus menguatkan indeks dolar AS.
Sebelumnya, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, memproyeksikan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah saat pasar kembali dibuka usai long weekend.
Rupiah bahkan dinilai berpotensi kembali menguji level psikologis 17.550 seiring tekanan eksternal yang masih kuat.
Menurut Sutopo, penguatan indeks dolar AS menjadi faktor utama yang membebani pergerakan Rupiah.
Kondisi tersebut didorong oleh meningkatnya kekhawatiran inflasi global serta transisi kepemimpinan di Federal Reserve yang memicu ekspektasi kebijakan moneter lebih ketat.
“Menjelang pembukaan pasar pasca long weekend, pergerakan Rupiah diproyeksikan masih akan tertahan dalam fase konsolidasi yang cenderung melemah (bearish bias), dengan risiko pengujian kembali ke level psikologis 17.550,” ujar Sutopo kepada Liputan6.com, Jumat (15/5/2026).
Selain faktor eksternal, Sutopo menilai libur panjang yang membuat pasar domestik tidak aktif berpotensi memicu lonjakan volatilitas saat perdagangan dibuka kembali, terutama di tengah arus modal global yang masih mencari aset safe-haven.
Namun demikian, ia melihat ada peluang tekanan terhadap Rupiah dapat sedikit tertahan oleh sikap pasar yang menanti hasil Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur pekan depan, terutama terkait arah suku bunga acuan dan kebijakan stabilisasi pasar obligasi.
“Dalam perspektif siklus pasar yang lebih luas, pergerakan pekan depan akan menjadi penentu apakah Rupiah mampu membentuk landasan support yang kuat di area saat ini, atau justru terkonfirmasi melanjutkan tren pelemahan jangka panjang akibat tekanan fundamental yang masih bersifat persisten,” tukasnya. (RD)






Tinggalkan Balasan