MORFEM.ID, SAMARINDA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membayangi Samarinda selama musim kemarau. Polresta Samarinda pun memperkuat pengawasan di empat kecamatan yang masuk dalam pemetaan wilayah rawan kebakaran.
Empat kecamatan tersebut yakni Sambutan, Palaran, Samarinda Utara dan Sungai Pinang. Di antara kawasan tersebut, Bantuas di Kecamatan Palaran menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian karena cukup sering terjadi kebakaran.
Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar mengatakan pemetaan dilakukan untuk menentukan wilayah yang membutuhkan langkah pencegahan lebih awal.
“Tempat-tempat yang kita anggap rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan terus kita identifikasi,” kata Hendri, Jumat (18/9/2026).
Di Sambutan, pengawasan mencakup kawasan Pulau Atas, Jalan Pelita hingga Makroman. Sementara di Palaran, Bantuas menjadi salah satu wilayah yang terus dipantau oleh petugas.
Polisi juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, terutama ketika kondisi cuaca masih kering. Imbauan tersebut disampaikan secara langsung di lapangan maupun melalui media sosial dan media daring.
“Kita juga pasang imbauan-imbauan untuk tidak melakukan pembakaran,” ujarnya.
Pengawasan juga diperluas ke wilayah Samarinda Utara dan Sungai Pinang, termasuk kawasan Lempake hingga Sempaja Utara.
Selain patroli, petugas melakukan pengecekan terhadap lokasi yang sebelumnya terbakar. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada sisa bara yang dapat kembali memicu munculnya titik api.
Hendri mengatakan pencegahan sejak awal diperlukan agar kebakaran tidak berkembang menjadi lebih besar.
“Upaya-upaya pencegahan dari awal kita lakukan agar tidak berdampak munculnya api yang bisa nanti lebih besar lagi,” jelasnya.
Posko Gabungan Disiapkan
Penanganan karhutla di Samarinda juga didukung posko terpadu yang berada di hampir seluruh kecamatan. Posko tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI-Polri, BPBD, pemadam kebakaran, relawan, Dinas Kesehatan hingga perangkat daerah lainnya.
Menurut Hendri, pola penanganan secara bersama diperlukan agar laporan kebakaran dapat segera ditindaklanjuti.
“Apabila ada informasi kebakaran lahan akan segera bergerak bersama-sama,” ungkapnya.
Ia juga menilai keberadaan relawan dan masyarakat sangat membantu proses penanganan di lapangan. Respons cepat dari berbagai unsur dapat mempercepat proses pemadaman ketika titik api ditemukan.
“Respons gabungan instansi terkait bersama relawan dan masyarakat sejauh ini berjalan baik dalam menangani kebakaran hutan dan lahan di Samarinda,” katanya.
Asap Tak Hanya Berasal dari Samarinda
Di sisi lain, Hendri menyebut kabut asap yang menyelimuti Samarinda dalam beberapa hari terakhir tidak seluruhnya berasal dari kebakaran di dalam kota.
Sejumlah daerah di sekitar Samarinda, seperti Kutai Kartanegara, Kutai Barat dan Kutai Timur, juga mengalami kebakaran maupun munculnya titik panas. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas udara di Samarinda ketika asap bergerak mengikuti kondisi angin.
Minimnya hujan selama periode kemarau turut memperbesar potensi penyebaran asap dari wilayah sekitar.
“Hujan hingga saat ini belum terlalu banyak turun, sehingga pergeseran asap ataupun dampak dari kebakaran juga bisa sampai ke wilayah Samarinda,” pungkas Hendri. (RD)







Tinggalkan Balasan