MORFEM.ID, SAMARINDA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur (Kaltim) mencatat adanya peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah wilayah di tengah kondisi kemarau dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan peningkatan kasus ISPA terpantau di beberapa daerah, di antaranya Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Berau, Kota Balikpapan, dan Kota Samarinda.
Menurutnya, peningkatan kasus ISPA tidak hanya dipengaruhi oleh paparan asap karhutla. Kondisi udara yang berdebu akibat kekeringan juga dapat menjadi salah satu faktor pemicu.
“Bukan hanya asap, tapi mungkin debu karena kekeringan juga. Hujan masih sangat jarang, sehingga debu bisa memengaruhi kualitas udara,” ujar Jaya saat di konfirmasi Morfem.id, Rabu (9/9/2026).
Ia menjelaskan, secara mingguan jumlah kasus ISPA memang mengalami peningkatan. Namun, angkanya masih berada di bawah 9.000 kasus.
Jaya menyebut jumlah tersebut tidak jauh berbeda dengan kondisi pada Januari-Februari yang juga sempat mencapai sekitar 9.000 hingga 9.400 kasus. Dengan demikian, peningkatan saat ini dinilai belum terlalu signifikan jika dibandingkan dengan periode tersebut.
Kelompok yang paling rentan mengalami ISPA, lanjut Jaya, adalah anak-anak, lanjut usia (lansia), serta ibu hamil.
Selain gangguan pernapasan, masyarakat juga diminta mewaspadai penyakit yang berpotensi muncul akibat keterbatasan sumber air selama musim kekeringan.
Menurut Jaya, ketika sumber air semakin terbatas, masyarakat dan hewan seperti tikus dapat berkumpul di sumber air yang sama. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit.
Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah leptospirosis atau penyakit yang dapat menular melalui paparan bakteri dari urine tikus. Jaya menyebut gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kondisi sanitasi dan kualitas air juga perlu menjadi perhatian, termasuk penyakit yang ditandai dengan gejala diare.
Untuk mengantisipasi berbagai risiko tersebut, Dinkes Kaltim terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan selama musim kemarau serta kondisi karhutla.
Jaya mengimbau masyarakat untuk rutin mencuci tangan menggunakan sabun, terutama sebelum makan dan minum. Sementara untuk mengurangi dampak buruk kualitas udara, masyarakat dianjurkan menggunakan masker.
“Kalau berkaitan dengan udara, menggunakan masker. Kemudian kalau terjadi kabut asap tebal, sebaiknya menghindari aktivitas di luar dan lebih banyak berada di dalam rumah,” jelasnya.
Ia juga meminta masyarakat tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami keluhan kesehatan. Warga yang sakit dianjurkan segera mendatangi puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat agar kondisi dapat segera diperiksa dan diketahui penyebabnya.
“Jangan ditunda untuk segera berobat ke puskesmas atau layanan kesehatan terdekat, sehingga bisa dideteksi apakah ini ISPA biasa, penyakit yang berkaitan dengan paru-paru, atau infeksi yang menyebabkan diare, demam, dan lainnya,” pungkas Jaya. (RD)







Tinggalkan Balasan