MORFEM.ID, SAMARINDA – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda belum mengambil keputusan untuk meliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah meski kualitas udara di sejumlah wilayah mulai berada pada kategori tidak sehat.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda, Neneng Chamelia Shanti, mengatakan pemerintah masih melakukan kajian bersama instansi terkait sebelum menentukan kebijakan mengenai aktivitas sekolah.
Untuk sementara, para pelajar yang tetap mengikuti pembelajaran di sekolah diimbau menggunakan masker sebagai langkah perlindungan dari paparan udara yang kurang baik.
Neneng mengatakan, keputusan meliburkan sekolah tidak bisa hanya didasarkan pada angka kualitas udara. Pemerintah juga harus melihat kondisi anak ketika berada di luar sekolah, terutama jika tidak ada jaminan mereka tetap berada di dalam rumah selama jam belajar.
“Kalau sekolah diliburkan, belum tentu anak-anak berada di rumah. Bisa saja mereka justru keluar dan beraktivitas di tempat lain. Ini yang juga harus kami pertimbangkan,” kata Neneng, Rabu (2/9/2026).
Menurut Neneng, keberadaan siswa di sekolah setidaknya masih memungkinkan aktivitas mereka lebih terpantau. Berbeda apabila kegiatan belajar dihentikan dan pengawasan sepenuhnya berada di tangan orang tua.
Ia menyebut aspek pengawasan tersebut menjadi salah satu pertimbangan Pemkot Samarinda dalam menentukan perlu atau tidaknya sekolah diliburkan.
“Yang menjadi pertanyaan, ketika anak diliburkan apakah orang tua bisa mengawasi secara maksimal pada saat kualitas udara sedang buruk? Apakah anak benar-benar tetap berada di rumah? Itu juga belum bisa dipastikan,” ujarnya.
Neneng menjelaskan, berdasarkan pemantauan yang dilakukan, beberapa wilayah Samarinda masih berada pada kondisi yang relatif dapat ditoleransi.
Namun, Palaran dan Sambutan menjadi kawasan yang kualitas udaranya lebih buruk dibandingkan wilayah lainnya.
Meski demikian, kondisi tersebut belum membuat pemerintah menetapkan kebijakan penghentian sementara kegiatan sekolah.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH), indeks kualitas udara Samarinda berada di kisaran angka 100 dan masuk dalam kategori tidak sehat. Kondisi itu membuat masyarakat, khususnya pelajar, dianjurkan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Pemkot juga meminta masyarakat mengurangi kegiatan di luar rumah apabila tidak memiliki keperluan mendesak. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko paparan udara yang semakin memburuk.
“Untuk masyarakat, kami imbau menjaga kesehatan dan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Indikator kualitas udara saat ini sudah mulai bergerak ke kondisi yang kurang baik,” tutur Neneng.
Imbauan serupa ditujukan kepada warga yang rutin melakukan aktivitas olahraga di luar ruangan, seperti bersepeda maupun jogging. Masyarakat diminta memilih waktu yang lebih aman dan menghindari periode ketika kadar pencemaran udara meningkat.
Neneng menyebut kondisi udara pada malam hari juga perlu menjadi perhatian. Menurutnya, peningkatan kadar pencemaran dapat mulai terjadi sejak siang hingga berlanjut pada malam hari.
“Kalau mau olahraga, masyarakat perlu melihat waktunya. Karena pada malam hari kondisi udara juga bisa kurang baik. Biasanya mulai sekitar pukul 14.00 kadar pencemaran udara mengalami peningkatan,” terangnya.
Di tengah kondisi cuaca yang masih kering, Neneng turut meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah. Selain berpotensi memperburuk kualitas udara, pembakaran terbuka juga dapat meningkatkan risiko kebakaran.
“Jangan membakar sampah. Dalam kondisi kekeringan seperti sekarang, pembakaran sampah sangat berisiko dan memang tidak diperbolehkan,” pungkasnya. (RD)







Tinggalkan Balasan