MORFEM.ID, SAMARINDA – Rampungnya pembangunan Teras Samarinda segmen II, III, dan IV membawa pekerjaan baru bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda. Setelah kawasan tepian Sungai Mahakam tersebut dibuka untuk masyarakat, pemerintah harus memastikan fasilitas tetap bersih, nyaman, dan terawat.
Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan kesiapan kawasan tidak hanya ditentukan dari selesainya pekerjaan konstruksi. Kondisi lingkungan di sekitar proyek juga harus dipastikan layak sebelum pagar pembatas dibuka dan masyarakat kembali dapat mengakses area tersebut.
Ia meminta proses pembukaan pagar proyek dibarengi dengan pembersihan menyeluruh. Area yang sebelumnya tertutup dalam waktu cukup lama dikhawatirkan menyisakan genangan, kotoran maupun lumut.
“Jangan hanya pagarnya yang dibuka. Saya sudah meminta PUPR memastikan kawasan tersebut dibersihkan terlebih dahulu karena selama tertutup bisa ada air tergenang, kotoran dan bekas lumut,” ujar Andi Harun belum lama ini.
Menurutnya, kawasan yang baru selesai dibangun harus terlihat menyatu dengan fasilitas Teras Samarinda dan ruas jalan yang telah lebih dulu dimanfaatkan masyarakat.
Karena itu, kebersihan menjadi bagian dari kesiapan sebelum akses publik dibuka. Pemerintah tidak ingin masyarakat yang datang justru menemukan area yang belum tertata setelah proyek selesai.
“Ketika akses dibuka, kondisinya harus sudah bersih dan secara fisik terhubung dengan kawasan Teras Samarinda serta jalan yang sudah ada,” katanya.
Di sisi lain, Pemkot Samarinda mulai memikirkan pola pemeliharaan dalam jangka panjang. Luasan Teras Samarinda tahap II membuat kebutuhan perawatan cukup besar, sehingga pengelolaannya dinilai tidak efektif apabila hanya dibebankan kepada satu organisasi perangkat daerah (OPD).
Dari hasil evaluasi, Pemkot kemudian membagi tanggung jawab pemeliharaan antara Dinas Perhubungan (Dishub) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Pembagian tugas tersebut diharapkan membuat pengelolaan kawasan lebih terarah, terutama dalam menjaga kebersihan dan fasilitas yang digunakan masyarakat.
Andi Harun menjelaskan, keputusan tersebut diambil setelah pemerintah melihat beban pengelolaan yang harus ditangani pada kawasan Teras Samarinda tahap II.
“Kalau seluruh kawasan diserahkan kepada Dishub, bebannya akan terlalu besar karena segmen tahap kedua cukup panjang. Jadi pengelolaannya perlu dibagi,” jelasnya.
Menurutnya, pola pemeliharaan menjadi bagian penting dari keberlanjutan pembangunan Teras Samarinda. Fasilitas publik yang telah dibangun dengan anggaran besar harus mendapatkan perawatan secara konsisten agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
Pemkot Samarinda pun ingin memastikan kualitas kawasan tetap terjaga setelah nantinya ramai dikunjungi warga. Kebersihan, keteraturan dan kondisi fasilitas akan menjadi bagian dari perhatian pemerintah setelah kawasan resmi digunakan.
“Pembangunan tidak berhenti ketika proyek selesai. Setelah itu yang tidak kalah penting adalah bagaimana menjaga kawasan tetap bersih, terawat dan nyaman digunakan masyarakat,” pungkasnya. (RD)







Tinggalkan Balasan