MORFEM.ID, SAMARINDA – Aktivitas perdagangan di Pasar Pagi Samarinda yang belum menunjukkan geliat maksimal menjadi perhatian DPRD Samarinda. Kondisi tersebut dinilai perlu segera dicarikan solusi agar pasar yang telah direvitalisasi itu dapat kembali berfungsi sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, mengatakan kondisi Pasar Pagi perlu dilihat secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi fisik bangunan yang kini terlihat lebih modern. Menurutnya, keberhasilan revitalisasi juga harus diukur dari tingkat aktivitas perdagangan dan keberlangsungan usaha para pedagang.
Ia menyebut masih adanya kios yang belum terisi serta minimnya aktivitas jual beli menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
“Yang harus kita pikirkan sekarang bagaimana Pasar Pagi ini bisa kembali ramai dan aktivitas ekonominya berjalan. Persoalan yang ada harus kita petakan satu per satu,” kata Iswandi, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, DPRD bersama pemerintah perlu mengevaluasi kembali konsep yang diterapkan di Pasar Pagi. Evaluasi tersebut penting untuk mengetahui apakah desain dan pola pengelolaan saat ini sudah sesuai dengan karakter masyarakat serta kebutuhan pedagang.
Iswandi mengatakan pihaknya berencana melibatkan berbagai pihak dalam pembahasan, termasuk akademisi, komunitas dan praktisi. Forum diskusi tersebut diharapkan dapat menghasilkan masukan yang lebih objektif mengenai arah pengembangan Pasar Pagi.
“Kita akan melihat berbagai masukan. Kalau memang diperlukan perubahan identitas atau rebranding, itu juga bisa menjadi salah satu opsi yang dibahas,” ujarnya.
Ia menilai konsep pasar tradisional dengan tampilan modern perlu dikaji kembali. Sebab, bentuk bangunan dan pola perdagangan yang diterapkan harus tetap mempertimbangkan kebiasaan masyarakat ketika berbelanja.
Menurut Iswandi, jangan sampai konsep yang sudah ditentukan justru membuat pedagang kesulitan mendapatkan pembeli. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, tujuan revitalisasi pasar dikhawatirkan tidak tercapai secara maksimal.
“Konsep yang ada jangan sampai justru membuat aktivitas perdagangan semakin sulit. Kalau memang ada yang perlu disesuaikan, tentu harus kita kaji,” tegasnya.
Namun, ia mengingatkan perubahan konsep tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan asumsi. Kajian harus mempertimbangkan karakter pengunjung, kebutuhan pedagang, kondisi bangunan, hingga potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.
Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah mengatur kembali fungsi beberapa area atau lantai berdasarkan jenis komoditas yang dijual. Dengan pembagian yang lebih jelas, pengunjung diharapkan lebih mudah menemukan kebutuhan sekaligus membuat kawasan pasar memiliki daya tarik tersendiri.
Meski demikian, seluruh opsi tersebut masih berada dalam tahap pembahasan dan belum menjadi keputusan.
Selain persoalan pengelolaan, Iswandi juga menilai desain Pasar Pagi perlu disesuaikan dengan pola belanja masyarakat. Menurutnya, karakter pasar tradisional selama ini identik dengan kemudahan dan kecepatan masyarakat memperoleh berbagai kebutuhan.
“Orang datang ke pasar biasanya ingin mendapatkan kebutuhan dengan cepat dan praktis. Pola seperti ini juga harus dipertimbangkan dalam pengembangan Pasar Pagi,” tuturnya.
Iswandi mengakui kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih turut memengaruhi aktivitas perdagangan. Namun, menurutnya, faktor tersebut tidak dapat menjadi satu-satunya alasan Pasar Pagi masih sepi.
Dengan investasi besar yang telah dikeluarkan untuk pembangunan kembali Pasar Pagi, DPRD Samarinda menilai perlu ada langkah lanjutan agar fasilitas tersebut mampu memberikan manfaat ekonomi bagi pedagang dan masyarakat.
“Pasar Pagi sudah dibangun dengan anggaran yang besar. Karena itu, kita harus mencari formula yang tepat supaya bangunan ini benar-benar hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (RD/Adv)







Tinggalkan Balasan