MORFEM.ID, SAMARINDA – Persoalan aliran air dari kawasan perbukitan di sekitar SMP Negeri 28 Samarinda menjadi perhatian DPRD Samarinda. Saat hujan turun, limpasan dari area yang lebih tinggi disebut mengarah ke lingkungan sekolah dan berpotensi mengganggu aktivitas belajar mengajar.
Kondisi tersebut diketahui Komisi IV DPRD Samarinda ketika melakukan peninjauan ke SMPN 28 yang berada di Kelurahan Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang, pada Rabu (12/8/2026).
Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, M. Novan Syahronny Pasie, mengatakan persoalan tersebut berkaitan dengan sistem drainase yang belum mampu menampung dan mengarahkan aliran air secara optimal.
Menurutnya, air dari kawasan yang berada di belakang sekolah memiliki kontur lebih tinggi sehingga ketika hujan, alirannya bergerak menuju area sekolah.
“Dari belakang sekolah ada aliran air yang turun dari kawasan lebih tinggi. Ini perlu ditangani secara teknis agar tidak terus mengarah ke lingkungan sekolah,” ujar Novan, Sabtu (22/8/2026).
Ia menilai penyelesaian masalah tersebut tidak dapat dibebankan kepada pihak sekolah. Pasalnya, sumber aliran berada di luar area sekolah sehingga diperlukan penanganan yang mencakup kawasan di sekitar sumber air hingga jalur pembuangannya.
Komisi IV DPRD Samarinda pun akan menyampaikan hasil peninjauan tersebut kepada Pemkot Samarinda. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) diharapkan melakukan pemeriksaan teknis sekaligus menyiapkan solusi untuk mengatasi persoalan tersebut.
“Kami akan menyampaikan temuan ini kepada pemerintah kota dan mendorong adanya usulan penanganan. OPD teknis, khususnya PUPR, perlu melihat langsung kondisi di lapangan,” katanya.
Novan mengingatkan agar penanganan tidak dilakukan secara parsial hanya pada saluran yang berada di dalam lingkungan sekolah. Pemerintah perlu menelusuri jalur air secara menyeluruh, termasuk dari kawasan perbukitan sebagai sumber limpasan.
Jika hanya saluran di sekitar sekolah yang diperbaiki tanpa membenahi jalur air dari bagian hulu, persoalan serupa dikhawatirkan kembali muncul ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi.
Dampak limpasan air juga perlu menjadi perhatian karena halaman sekolah merupakan salah satu ruang yang digunakan siswa dan tenaga pendidik untuk menunjang berbagai aktivitas.
Genangan maupun aliran air yang tidak terkendali dapat mengganggu akses serta kenyamanan lingkungan sekolah. Karena itu, DPRD meminta persoalan drainase tersebut masuk dalam pendataan kebutuhan infrastruktur di kawasan SMPN 28.
Survei teknis dinilai diperlukan untuk menentukan pola penanganan yang sesuai dengan kondisi kontur tanah dan sistem drainase di sekitar sekolah.
Novan menegaskan, pembangunan lingkungan pendidikan tidak cukup hanya memastikan gedung sekolah dalam kondisi baik. Infrastruktur pendukung seperti saluran drainase juga harus diperhatikan agar kegiatan belajar mengajar berlangsung aman dan nyaman.
“Fasilitas pendidikan bukan hanya gedungnya. Infrastruktur di sekitarnya juga harus diperhatikan supaya lingkungan sekolah tetap aman dan mendukung proses belajar,” pungkasnya. (RD/Adv)







Tinggalkan Balasan