MORFEM.ID, SAMARINDA – Kalimantan dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi kawasan dengan kontribusi kelapa sawit terbesar di Indonesia. Potensi perkebunan dan produksi yang terus berkembang menjadi modal untuk menantang posisi Sumatra yang hingga kini masih menjadi wilayah penghasil sawit terbesar nasional.
Sekretaris GAPKI Kaltim, Nofriansyah, mengatakan peluang tersebut perlu diikuti dengan dukungan kebijakan pemerintah, terutama dalam menjaga iklim investasi dan memperkuat industri hilir kelapa sawit.
Menurutnya, sawit tidak hanya berperan sebagai komoditas ekspor, tetapi juga menjadi salah satu sektor yang menyerap banyak tenaga kerja serta memberikan kontribusi terhadap perekonomian dan penerimaan negara.
“Harapan kita dari acara Borneo Forum kemarin ada satu rumusan masalah dan alternatif opsi yang kita tawarkan kepada pemerintah untuk dijadikan pertimbangan dalam membuat peraturan dan kebijakan,” ujar Nofriansyah, Rabu (19/8/2026).
Ia menyebut, peluang pengembangan industri sawit di Kalimantan menjadi salah satu isu yang dibahas dalam Borneo Forum di Balikpapan pada Agustus 2026. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari pelaku usaha, pemerintah, akademisi, lembaga keuangan, petani hingga mitra perusahaan.
Nofriansyah mengakui, produksi sawit Kalimantan saat ini masih berada di bawah Sumatra. Namun, kondisi tersebut bukan berarti peluang untuk menjadi penghasil terbesar tertutup.
“Harapannya Kalimantan khususnya ingin menjadi (yang terbesar), sekarang belum terbesar. Masih Sumatra nomor satu,” katanya.
Ia menilai, kepastian kebijakan menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong ekspansi dan investasi di sektor tersebut. Terlebih, pelaku usaha dalam setahun terakhir menghadapi sejumlah kebijakan, di antaranya Satgas PKH, PP 45 mengenai ekspor satu pintu, serta pungutan ekspor yang berkaitan dengan EUDR.
Menurutnya, kebijakan pemerintah harus tetap memperhatikan keberlangsungan dunia usaha. Sebab, ketidakpastian kebijakan berpotensi membuat investasi di sektor perkebunan sawit ikut melambat.
“Kalau investasi berkurang, niat untuk memperbesar atau memperluas wilayah perkebunan kelapa sawit jadi semakin kecil,” jelasnya.
Selain meningkatkan produksi, pengembangan industri hilir juga dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat posisi Kalimantan. Dengan begitu, komoditas sawit tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat memberikan nilai tambah lebih besar bagi daerah.
Di Kaltim, sejumlah fasilitas refinery telah beroperasi, antara lain di Balikpapan, Bontang, Kutai Timur dan Berau. Namun, produk hilir yang dihasilkan saat ini masih terbatas pada minyak goreng.
Karena itu, Nofriansyah mendorong pengembangan industri hilir yang lebih beragam sehingga manfaat ekonomi dari komoditas sawit dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat dan daerah.
“Harapan terbesar kita adalah industri ini tetap sustain atau berkelanjutan sehingga pemangku kepentingan, baik petani, pengusaha maupun pemerintah, bisa terus merasakan manfaat dari komoditas kelapa sawit ini,” tukasnya. (RD)







Tinggalkan Balasan