MORFEM.ID, SAMARINDA – Kepadatan lalu lintas di Samarinda kian menjadi perhatian seiring bertambahnya jumlah kendaraan dan terbatasnya ruang untuk memperluas jalan di kawasan perkotaan.
Untuk mengantisipasi kemacetan yang semakin parah, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda didorong mempercepat pembangunan jalur alternatif dan jalan penghubung antarkawasan.
Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Achmad Sukamto, menilai pembangunan jalan baru di luar pusat kota perlu menjadi bagian penting dari strategi penanganan lalu lintas. Sejumlah proyek yang dinilai perlu mendapat perhatian ialah Jalan Ring Road 2 serta akses penghubung Jembatan Mahkota II menuju Bandara APT Pranoto.
Menurut Sukamto, pembangunan jalur tersebut tidak hanya berfungsi sebagai solusi untuk mengurangi kepadatan kendaraan, tetapi juga menjadi investasi infrastruktur bagi perkembangan Samarinda dalam jangka panjang.
Ia menilai, upaya mengatasi kemacetan melalui pelebaran jalan di tengah kota semakin sulit dilakukan. Kondisi itu membuat penambahan akses baru menjadi salah satu pilihan yang perlu diprioritaskan pemerintah.
“Memang saat ini pelaksanaannya belum bisa maksimal karena keterbatasan anggaran. Namun, ketika kondisi keuangan sudah kembali stabil, pembangunan jalan-jalan pendekat ini diharapkan bisa dilanjutkan,” ujar Sukamto, Senin (12/10/2026).
Meski demikian, ia memahami pembangunan infrastruktur tidak dapat dilakukan sekaligus karena harus menyesuaikan kemampuan keuangan daerah. Karena itu, pemerintah perlu menentukan skala prioritas agar proyek yang berpengaruh terhadap kelancaran lalu lintas dapat direalisasikan secara bertahap.
Sukamto menyebut, Pemkot Samarinda sebenarnya telah memiliki pedoman pengembangan wilayah melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2023 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2023–2045. Dokumen tersebut dapat menjadi acuan dalam menentukan arah pembangunan, termasuk pengembangan jaringan jalan alternatif.
Menurutnya, rencana tata ruang yang telah disusun perlu diterjemahkan menjadi program pembangunan nyata. Dengan pelaksanaan yang konsisten, pengembangan infrastruktur diharapkan tidak hanya bertumpu pada kawasan pusat kota, tetapi juga menjangkau wilayah lain yang membutuhkan akses lebih baik.
Posisi Samarinda sebagai salah satu daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) juga menjadi alasan pentingnya pembenahan konektivitas. Ke depan, Kota Tepian berpotensi semakin ramai dikunjungi masyarakat untuk berbagai kepentingan, mulai dari kegiatan usaha hingga tempat tinggal.
“Pemerintah sudah memiliki desain besar pembangunan melalui tata ruang. Sekarang bagaimana rencana tersebut bisa direalisasikan secara bertahap, khususnya pembangunan jalan-jalan pendekat di Samarinda,” katanya.
Terkait wacana pembangunan jalan layang atau flyover, politikus Partai Golkar itu menyampaikan bahwa pembahasan khusus mengenai proyek tersebut belum dilakukan secara mendalam bersama Pemkot Samarinda. Saat ini, pihaknya masih memprioritaskan penambahan ruas jalan dan jalur alternatif.
Ia berharap pembangunan akses baru dapat membantu membagi arus kendaraan sehingga beban lalu lintas tidak terus terpusat di kawasan perkotaan. Selain mengurangi potensi kemacetan, langkah tersebut juga diharapkan mendukung pemerataan pembangunan di Samarinda.
“Kami masih mendorong penambahan jalan baru dan jalur alternatif untuk mengurai kemacetan. Harapannya, pembangunan kota tidak hanya terkonsentrasi di pusat perkotaan,” tukasnya. (RD/Adv)






Tinggalkan Balasan