MORFEM.ID, SAMARINDA – Menjadikan Pesut Mahakam sebagai daya tarik wisata membutuhkan strategi yang lebih matang. Dinas Pariwisata Kaltim menilai wisata pengamatan pesut di Desa Pela, Kabupaten Kutai Kartanegara, tidak bisa hanya bergantung pada kemunculan satwa langka tersebut.
Kondisi habitat dan aktivitas di Sungai Mahakam membuat keberadaan Pesut Mahakam semakin sulit diprediksi. Lalu lintas kapal, kebisingan, pencemaran, hingga perubahan lingkungan sungai disebut turut memengaruhi pola kemunculan mamalia air tawar tersebut.
Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Muhammad Faisal, mengatakan Desa Pela sebenarnya memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis Pesut Mahakam. Namun, pengalaman wisatawan perlu dirancang agar tetap menarik meski mereka tidak berhasil melihat pesut secara langsung.
“Potensinya sangat besar karena Pesut Mahakam merupakan satwa langka. Tetapi wisatawan harus mendapatkan pengalaman yang menarik. Jangan sampai mereka datang khusus untuk melihat pesut, kemudian kecewa karena tidak muncul,” kata Faisal belum lama ini.
Menurutnya, kepastian waktu dan lokasi kemunculan pesut menjadi salah satu hal yang perlu dipelajari lebih serius. Untuk itu, Dispar Kaltim berencana menggali informasi dari masyarakat Desa Pela yang selama ini beraktivitas dan tinggal di sekitar habitat pesut.
Masyarakat lokal dinilai memiliki pengetahuan mengenai pola kemunculan pesut, termasuk kemungkinan keterkaitannya dengan kondisi air, waktu tertentu, maupun musim.
“Kami ingin berdiskusi dengan masyarakat dan pengelola di sana. Mereka yang setiap hari berada di kawasan tersebut tentu memiliki pengalaman mengenai kapan biasanya pesut lebih mudah ditemukan,” ujarnya.
Faisal mengatakan informasi tersebut nantinya dapat menjadi dasar penyusunan pola kunjungan wisata yang lebih terarah. Dengan begitu, wisatawan tidak sekadar diajak menyusuri sungai tanpa kepastian, tetapi memiliki peluang lebih besar untuk menyaksikan pesut.
“Kalau ada informasi mengenai waktu atau kondisi yang paling memungkinkan untuk melihat pesut, wisatawan bisa datang dengan peluang yang lebih besar. Jangan sampai semuanya hanya berdasarkan perkiraan,” jelasnya.
Selain memperbaiki pola pengamatan, Dispar Kaltim juga mendorong pengelola Desa Pela menyiapkan aktivitas wisata lain. Langkah tersebut penting agar kunjungan tetap memberikan pengalaman bagi wisatawan meskipun pesut sedang tidak terlihat.
Menurut Faisal, paket wisata dapat dikembangkan dengan memanfaatkan potensi alam, budaya, maupun aktivitas masyarakat setempat. Dengan demikian, Pesut Mahakam tetap menjadi daya tarik utama tanpa menjadi satu-satunya aktivitas yang ditawarkan kepada wisatawan.
“Harus ada pilihan kegiatan lain. Kalau wisatawan sudah datang jauh-jauh dan pesut tidak muncul, mereka tetap bisa menikmati atraksi lainnya,” katanya.
Di sisi lain, pengembangan wisata Pesut Mahakam harus tetap memperhatikan aspek perlindungan satwa dan habitatnya. Faisal mengingatkan bahwa keberadaan pesut di Sungai Mahakam menghadapi tekanan yang semakin besar.
“Ini bukan hanya soal wisata, tetapi juga konservasi. Kalau populasinya terus berkurang, tentu harus ada upaya bersama untuk menjaganya,” tegasnya.
Berdasarkan data konservasi Desa Wisata Pela, populasi Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) di Sungai Mahakam diperkirakan tersisa sekitar 60 ekor di alam liar. Satwa yang masuk kategori Kritis (Critically Endangered) dalam daftar IUCN tersebut menghadapi sejumlah ancaman, seperti tabrakan dengan kapal, alat tangkap ikan, pencemaran, serta kerusakan habitat.
Desa Pela sendiri menjadi salah satu kawasan yang dikenal sebagai lokasi pengamatan pesut sekaligus tempat edukasi konservasi. Karena itu, pengembangan destinasi wisata di kawasan tersebut dinilai perlu berjalan seimbang dengan upaya menjaga habitat agar keberadaan Pesut Mahakam tetap terjaga untuk generasi mendatang. (RD)







Tinggalkan Balasan