MORFEM.ID, SAMARINDA – Pengembangan sektor pariwisata di Kota Samarinda masih menghadapi persoalan keterbatasan dukungan anggaran. Kondisi ini dinilai berpengaruh terhadap upaya pemerintah dalam menambah destinasi wisata sekaligus meningkatkan kualitas fasilitas yang sudah ada.
Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Rusdi Doviyanto, menilai penguatan sektor pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan potensi yang dimiliki daerah. Dukungan pembiayaan, investasi, serta strategi pengelolaan yang tepat juga diperlukan agar sektor tersebut mampu berkembang secara berkelanjutan.
Menurut Rusdi, keterbatasan anggaran membuat pemerintah harus lebih selektif dalam menentukan program pengembangan wisata. Di sisi lain, kebutuhan untuk menghadirkan destinasi baru dan meningkatkan daya tarik objek wisata yang sudah ada tetap harus menjadi perhatian.
“Dengan anggaran yang terbatas, pemerintah memang menghadapi tantangan untuk membangun destinasi baru. Karena itu, diperlukan strategi dan dukungan dari berbagai pihak agar pengembangan wisata tetap berjalan,” kata Rusdi, Kamis (30/7/2026).
Ia menyebut Samarinda memiliki karakteristik yang berbeda dengan sejumlah daerah lain di Kaltim yang lebih banyak memiliki wisata berbasis alam. Kondisi tersebut, menurutnya, justru harus menjadi dasar bagi Pemkot Samarinda untuk mencari konsep wisata yang sesuai dengan potensi perkotaan dan kekuatan lokal.
Rusdi mencontohkan keberadaan Teras Samarinda yang kini menjadi salah satu ruang publik sekaligus tujuan rekreasi masyarakat. Namun, ia menilai Samarinda masih membutuhkan lebih banyak pilihan wisata agar kunjungan tidak hanya terpusat pada satu lokasi.
“Kalau pilihan wisatanya terbatas, wisatawan bisa saja datang ke satu tempat lalu kembali. Kita perlu membuat lebih banyak alternatif sehingga mereka bisa menghabiskan waktu lebih lama di Samarinda,” tuturnya.
Selain mengembangkan destinasi baru, Rusdi mendorong Pemkot Samarinda memaksimalkan potensi seni dan budaya lokal. Menurutnya, wisata berbasis budaya dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperluas daya tarik pariwisata Kota Tepian tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pembangunan fisik dengan biaya besar.
Desa Budaya Pampang menjadi salah satu kawasan yang dinilai memiliki peluang tersebut. Rusdi menyarankan agar kegiatan budaya di kawasan itu dikembangkan secara lebih teratur melalui pertunjukan atau agenda budaya yang memiliki jadwal tetap.
Dengan pola tersebut, Pampang diharapkan tidak hanya menjadi tujuan wisata ketika berlangsung acara tertentu. Aktivitas budaya yang konsisten dinilai dapat membuat kawasan tersebut memiliki daya tarik yang lebih berkelanjutan.
“Kalau kegiatan budaya dilakukan secara rutin dan terjadwal, wisatawan akan lebih mudah mengetahui kapan mereka bisa datang dan menikmati pertunjukan. Ini bisa menjadi kekuatan tersendiri bagi Pampang,” jelasnya.
Di sisi lain, Rusdi menilai pengembangan kawasan wisata budaya juga membutuhkan konsep pengelolaan yang jelas. Pemerintah perlu memastikan regulasi, bentuk kerja sama, serta pembagian peran antara pemerintah, masyarakat adat dan pihak swasta dapat berjalan dengan baik.
Kepastian tersebut dinilai penting agar pengembangan wisata tidak hanya berorientasi pada peningkatan kunjungan, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.
Rusdi berharap keterbatasan fiskal tidak membuat pemerintah berhenti mencari terobosan di sektor pariwisata. Kolaborasi dengan pelaku usaha, masyarakat, serta pihak lainnya dinilai dapat menjadi alternatif untuk mempercepat pengembangan destinasi tanpa sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah.
“Jika dikelola secara serius, pariwisata dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi baru di Samarinda, sekaligus membuka peluang usaha dan meningkatkan kontribusi sektor tersebut terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD),” tukasnya. (RD/Adv)







Tinggalkan Balasan