MORFEM.ID, SAMARINDA – Bangunan baru Pasar Pagi Samarinda kini tampil lebih megah, modern, dan tertata setelah direvitalisasi oleh Pemerintah Kota Samarinda. Namun, di balik wajah barunya yang menjadi ikon perdagangan kota, aktivitas jual beli belum sepenuhnya pulih.
Sejumlah pedagang mengaku hingga kini masih kesulitan mendapatkan pembeli, bahkan pendapatan yang diperoleh hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Salah seorang pedagang, Hariati, mengatakan dirinya mulai menempati kios baru setelah menerima kunci pada awal Maret 2026 dan resmi membuka usahanya pada 4 Maret, bertepatan dengan bulan Ramadan.
Meski telah beberapa bulan beroperasi, kondisi penjualan menurutnya masih jauh dari harapan. Bahkan, situasinya kini dinilai lebih sulit dibandingkan saat pertama kali menempati kios.
“Kalau sekarang kondisinya sangat sepi. Kadang sampai siang belum ada pembeli sama sekali. Jualan yang didapat hanya cukup untuk makan sehari-hari,” ujarnya saat di konfirmasi Morfem.id, Senin (27/7/2026).
Hariati menuturkan, selama Ramadan hingga Lebaran penjualan sempat sedikit meningkat. Namun, pendapatan tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian dan belum bisa disisihkan sebagai tabungan.
Setiap hari ia membuka kios mulai pukul 07.30 hingga 17.00 Wita. Dalam sehari, barang yang terjual rata-rata hanya satu hingga dua pasang sandal. Pada hari yang dianggap ramai, penjualan paling banyak hanya mencapai tiga pasang.
“Omzetnya tidak menentu. Kadang satu pasang, kadang dua pasang saja yang laku dalam sehari,” katanya.
Menurut Hariati, pedagang yang berada di bagian depan pasar masih memiliki peluang mendapatkan pembeli meski jumlahnya terbatas. Berbeda dengan pedagang yang menempati kios di bagian tengah hingga belakang.
“Banyak teman saya di blok belakang sampai tujuh hari tidak ada pembeli sama sekali. Kalau di depan masih ada satu atau dua transaksi setiap hari,” ungkapnya.
Ia menduga sepinya pengunjung dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari kondisi ekonomi masyarakat hingga desain bangunan pasar. Salah satu yang disorot adalah akses menuju area dalam pasar yang dinilai kurang nyaman.
“Mungkin tangganya terlalu tinggi, sehingga orang hanya belanja di kios bagian depan. Yang di tengah dan belakang akhirnya jarang didatangi pembeli,” tuturnya.
Keluhan serupa juga disampaikan pedagang lainnya, Asma. Saat ditemui, ia mengaku belum memperoleh satu pun pembeli pada hari ini.
“Hari ini belum ada pendapatan sama sekali karena belum ada yang membeli,” katanya.
Asma menilai suasana Pasar Pagi yang baru sangat berbeda dibandingkan pasar lama. Menurutnya, sebelum direlokasi, aktivitas jual beli jauh lebih hidup karena masyarakat dari berbagai kalangan datang untuk berbelanja.
“Dulu Pasar Pagi benar-benar ramai. Semua orang datang belanja. Sekarang kondisinya jauh lebih sepi,” ujarnya.
Ia mengatakan hasil penjualan saat ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya operasional berdagang. Meski demikian, dirinya tetap bersyukur apabila masih ada pembeli yang datang.
“Kami hanya berusaha mencukup-cukupkan saja. Yang penting masih ada yang membeli, walaupun sedikit,” ucapnya.
Asma berharap pemerintah lebih serius memperhatikan kondisi para pedagang dan menindaklanjuti berbagai keluhan yang disampaikan. Menurutnya, upaya menghidupkan kembali aktivitas Pasar Pagi perlu segera dilakukan agar bangunan yang megah tersebut benar-benar menjadi pusat perdagangan yang ramai seperti dahulu.
“Harapan kami pemerintah bisa memberikan solusi supaya pembeli kembali ramai dan pedagang bisa berjualan dengan lebih baik,” pungkasnya. (RD)







Tinggalkan Balasan