MORFEM.ID, SAMARINDA – Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menilai degradasi lingkungan memiliki hubungan erat dengan meningkatnya berbagai persoalan kesehatan yang dialami masyarakat.
Menurutnya, dampak kerusakan alam tidak hanya terlihat dari bencana seperti banjir, tetapi juga berpengaruh terhadap kualitas hidup dan kondisi kesehatan warga.
Pernyataan itu disampaikan Rudy saat menghadiri pelantikan Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kaltim belum lama ini. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya kawasan sungai dan daerah hulu.
“Yang paling penting adalah memahami fungsi sungai sebagaimana mestinya. Kita juga harus memahami siklus pasang surut air yang terus berubah setiap tahunnya,” ujarnya.
Rudy mengungkapkan, berdasarkan pengamatannya, rumah sakit di Kaltim masih banyak menangani kasus penyakit jantung, kanker, serta penyakit dalam. Ia menilai tingginya angka penyakit tersebut tidak bisa dipisahkan dari kondisi lingkungan yang terus mengalami tekanan.
“Saya sempat bertanya, mengapa kasus-kasus penyakit ini terus meningkat. Salah satu penyebab yang saya lihat adalah kerusakan lingkungan,” katanya.
Menurut Rudy, pandangan tersebut semakin kuat ketika dirinya bertugas di Komisi VII DPR RI yang membidangi energi, sumber daya mineral, riset, dan lingkungan hidup.
Dari berbagai pembahasan yang diikutinya, ia menilai keuntungan ekonomi dari eksploitasi sumber daya alam tidak sebanding dengan dampak kerusakan yang ditimbulkan.
“Pendapatan dari sektor ekstraktif, termasuk pertambangan batu bara, tidak akan mampu menutup biaya pemulihan lingkungan apabila kerusakannya sudah terjadi,” tegasnya.
Selain aktivitas pertambangan, Rudy juga menyoroti pesatnya perkembangan perkebunan kelapa sawit di Kaltim. Ia menyebut luas perkebunan sawit di provinsi tersebut mencapai sekitar tiga juta hektare, dengan sebagian besar telah memasuki masa produksi.
Produksi sawit yang terus meningkat, lanjutnya, turut memberikan tekanan terhadap infrastruktur, terutama jalan yang digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan menuju fasilitas pengolahan maupun pelabuhan.
Karena itu, Rudy berharap Forum Koordinasi DAS mampu berperan lebih aktif dalam mengawal isu-isu lingkungan, tidak hanya sebagai wadah koordinasi, tetapi juga menjadi mitra pemerintah dalam memberikan masukan dan mendorong lahirnya kebijakan yang berpihak pada kelestarian alam.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga kawasan hulu Daerah Aliran Sungai Mahakam sebagai sumber utama keberlanjutan ekosistem.
Menurutnya, pelestarian kawasan hulu harus berjalan beriringan dengan pemanfaatan sumber daya alam agar kualitas lingkungan tetap terjaga untuk generasi mendatang.
“Menjaga kawasan hulu menjadi tanggung jawab bersama. Jika hulunya tetap lestari, kualitas air akan terpelihara dan kehidupan masyarakat juga akan lebih terjamin,” tukasnya. (RD)







Tinggalkan Balasan