MORFEM.ID, SAMARINDA – Wali Kota Samarinda Andi Harun membantah kabar yang menyebut dirinya tengah menyiapkan skenario politik keluarga dengan maju pada pemilihan Gubernur Kaltim sekaligus mendorong putranya, Muhammad Afif Rayhan Harun, maju sebagai calon Wali Kota Samarinda.
Ia menegaskan isu tersebut tidak benar dan bertentangan dengan prinsip politik yang selama ini dipegangnya.
Andi Harun mengatakan dirinya menolak praktik politik dinasti dan memastikan tidak pernah merancang estafet kekuasaan melalui anggota keluarganya.
Menurutnya, narasi yang berkembang di media sosial bukan sekadar informasi keliru, melainkan telah mengarah pada fitnah.
“Saya tegaskan, Afif tidak saya izinkan maju sebagai calon wali kota. Sikap saya terhadap politik dinasti sudah jelas sejak dulu dan tidak pernah berubah. Silakan catat pernyataan ini, kalau nanti terbukti berbeda, masyarakat berhak menagih komitmen saya,” ujarnya saat ditemui di DPRD Samarinda belum lama ini.
Ia menjelaskan, dalam perjalanan politiknya selalu mengedepankan mekanisme demokrasi yang sehat tanpa melibatkan kepentingan keluarga untuk mempertahankan kekuasaan. Karena itu, ia menilai isu mengenai adanya skenario politik keluarga sama sekali tidak berdasar.
Menurut Andi Harun, tudingan yang beredar telah membangun persepsi seolah dirinya sedang menyiapkan pergantian kepemimpinan di Samarinda demi memuluskan langkah menuju kontestasi tingkat provinsi.
“Itu bukan hanya hoaks. Informasi yang beredar sudah menjadi fitnah yang sangat serius karena sama sekali tidak sesuai dengan fakta,” katanya.
Andi Harun juga mengungkapkan sempat berdiskusi secara langsung dengan putranya mengenai posisinya sebagai anggota DPRD Kaltim. Bahkan, ia pernah menyarankan agar Afif mempertimbangkan mundur dari kursi legislatif demi menghindari munculnya penilaian negatif di tengah masyarakat.
Namun, lanjutnya, sang putra memilih tetap menjalankan amanah sebagai wakil rakyat karena merasa memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat yang telah memberikan kepercayaan melalui pemilu.
“Saya pernah meminta dia mempertimbangkan untuk mundur, tetapi dia memilih menyelesaikan amanah yang telah diberikan warga Samarinda. Bagi saya, alasan itu dapat dipahami karena menyangkut tanggung jawab kepada konstituen,” jelasnya.
Meski demikian, Andi Harun mengingatkan bahwa jabatan politik tidak boleh ditempatkan di atas kepentingan keluarga maupun nilai integritas yang harus dijaga setiap pemimpin.
“Politik bukan segalanya. Saya selalu menanamkan kepada keluarga bahwa ketika harus memilih antara jabatan dan keluarga, maka keluarga harus menjadi prioritas,” tukasnya. (RD)







Tinggalkan Balasan