MORFEM.ID, SAMARINDA – Dua gempa bumi berkekuatan besar mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6/2026) petang sekitar pukul 18.00 waktu setempat.
Bencana ini terjadi ketika negara tersebut masih berjuang keluar dari krisis ekonomi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Data dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat gempa pertama memiliki magnitudo 7,2. Tak lama kemudian, hanya dalam rentang sekitar 39 detik, gempa kedua yang lebih kuat dengan magnitudo 7,5 kembali mengguncang wilayah tersebut.
Pusat gempa berada di sekitar Montalban, Negara Bagian Carabobo, pada kedalaman sekitar 32 kilometer. Kedalaman yang relatif dangkal membuat getarannya terasa kuat hingga ke Caracas dan sejumlah daerah lain di Venezuela.
Pemerintah setempat menyebut sedikitnya 32 orang meninggal dunia dan lebih dari 700 warga mengalami luka-luka akibat peristiwa tersebut. Namun, jumlah korban diperkirakan masih dapat bertambah mengingat proses evakuasi dan pencarian masih terus berlangsung di sejumlah lokasi terdampak.
Berdasarkan laporan Reinsurance News pada Kamis (25/6/2026), analisis USGS menunjukkan terdapat peluang sekitar 12 persen jumlah korban meninggal melampaui 100 orang.
Sementara itu, kemungkinan korban mencapai lebih dari 10.000 jiwa diperkirakan sebesar 44 persen, bahkan terdapat peluang 30 persen untuk skenario terburuk dengan korban menembus angka 100.000 jiwa.
Bencana Alam di Tengah Krisis Berkepanjangan
Wilayah La Guaira dan kawasan metropolitan Caracas menjadi daerah yang mengalami dampak paling serius. Sejumlah bangunan dilaporkan runtuh, pasokan listrik terganggu, dan fasilitas kesehatan kewalahan menangani banyaknya korban yang membutuhkan perawatan.
Sebagai respons, pemerintah Venezuela menetapkan status darurat nasional. Aktivitas sekolah dihentikan sementara dan tenaga medis tambahan diterjunkan guna mempercepat pelayanan kepada masyarakat terdampak.
Tim penyelamat hingga kini masih menyisir reruntuhan bangunan untuk mencari kemungkinan korban yang belum ditemukan. Upaya tersebut semakin menantang karena gempa susulan terus terjadi dan berpotensi membahayakan petugas di lapangan.
Di luar dampak bencana alam, Venezuela sebenarnya telah lama menghadapi persoalan ekonomi yang berat. Selama lebih dari satu dekade, negara yang pernah dikenal sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Amerika Latin itu mengalami kemerosotan yang signifikan.
Negara yang memiliki cadangan minyak melimpah tersebut tercatat mengalami penurunan standar hidup sekitar 74 persen dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.
Menurut Economics Observatory, akar permasalahan ekonomi Venezuela berasal dari kebijakan fiskal yang diterapkan sejak era Presiden Hugo Chavez dan berlanjut pada pemerintahan Nicolas Maduro.
Ketika harga minyak sedang tinggi, pemerintah melakukan pengeluaran besar-besaran tanpa membangun cadangan keuangan yang memadai, sementara utang negara terus bertambah.
Kondisi semakin memburuk ketika bank sentral mencetak uang dalam jumlah besar untuk menutupi defisit anggaran. Langkah itu memicu inflasi yang tidak terkendali dan menggerus daya beli masyarakat secara drastis.
Selain itu, kebijakan pengendalian harga, nasionalisasi berbagai perusahaan, serta pembatasan akses terhadap mata uang asing turut menekan aktivitas ekonomi dalam negeri. Dampaknya, berbagai kebutuhan pokok menjadi langka dan banyak sektor usaha mengalami kemunduran.
Ketergantungan terhadap impor juga meningkat, termasuk untuk kebutuhan penting seperti pangan dan obat-obatan. Saat harga minyak dunia anjlok pada 2014, pendapatan negara merosot tajam sehingga memperparah krisis yang sudah terjadi.
Situasi tersebut berkembang menjadi depresi ekonomi yang disertai hiperinflasi. Nilai mata uang nasional terus tergerus dan memaksa jutaan warga mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri.
Diperkirakan lebih dari tujuh juta warga Venezuela telah meninggalkan negaranya dalam beberapa tahun terakhir, menjadikannya salah satu gelombang migrasi terbesar di dunia.
Kondisi ini juga diperburuk oleh sanksi internasional, terutama dari Amerika Serikat sejak 2019, yang membatasi akses Venezuela terhadap pasar minyak global dan sistem keuangan internasional.
Kini, masyarakat Venezuela harus menghadapi dua tantangan besar sekaligus. Selain berjuang menghadapi dampak gempa berupa korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan kehilangan tempat tinggal, mereka juga masih dibebani kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, pangan, dan lapangan pekerjaan diperkirakan akan membuat proses pemulihan pascabencana menjadi jauh lebih berat dibandingkan banyak negara lainnya. (RD)







Tinggalkan Balasan