MORFEM.ID, SAMARINDA – Relawan kemanusiaan asal Indonesia, Ronggo Wirasanu, membagikan pengalamannya saat kapal bantuan menuju Jalur Gaza dihentikan dan para aktivis ditahan oleh militer Israel.
Ronggo ialah relawan dari Dompet Dhuafa/Global Peace Convoy Indonesia yang tergabung dalam pelayaran kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0.
Ia merupakan satu dari sembilan orang warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban pencegatan militer Zionis Israel di perairan pada, 19 Mei 2026.
Dirinya mengatakan kapal yang mereka tumpangi didekati aparat militer Israel sebelum akhirnya dihentikan secara paksa.
“Waktu itu ada kapal militer mendekat, lalu dua speedboat bersenjata mengitari kapal kami. Setelah itu kapal dihentikan dan mengalami perusakan,” ujar Ronggo seperti dikutip Antara, Senin (25/5/2026).
Menurut dia, seluruh relawan dari berbagai negara kemudian dipindahkan ke kapal militer Israel dan menjalani proses penahanan.
Ronggo juga mengaku para relawan mendapat perlakuan kasar selama penahanan berlangsung. Sejumlah aktivis kata dia, mengalami tindakan fisik saat berada di kapal militer maupun ketika dipindahkan ke daratan.
“Kami mendapat tindakan kekerasan seperti pukulan dan tendangan. Saat dibawa ke Pelabuhan Ashdod pun perlakuan itu masih terjadi,” katanya.
Setelah menjalani pemeriksaan imigrasi di Pelabuhan Ashdod, para relawan disebut dipindahkan lagi ke lokasi penahanan di wilayah Negev, Israel selatan.
Ronggo menuturkan, para aktivis kemudian dibebaskan dan diterbangkan melalui Bandara Ben Gurion menuju Yordania sebelum kembali ke negara masing-masing.
Ia menambahkan, perlakuan serupa dialami banyak relawan internasional yang ikut dalam misi kemanusiaan tersebut.
“Hampir seluruh relawan mendapatkan perlakuan yang sama selama penahanan,” tukasnya. (RD)







Tinggalkan Balasan