MORFEM.ID, SAMARINDA – Nilai tukar dolar Amerika Serikat yang terus mengalami penguatan hingga berada di kisaran Rp17.708 mulai berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat di Kalimantan Timur.
Situasi tersebut memicu kenaikan biaya logistik, harga kebutuhan sehari-hari, hingga beban pengeluaran di berbagai sektor pembangunan.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Ahmad Syarif menilai menguatnya mata uang Amerika dipengaruhi sejumlah kondisi global.
Di antaranya kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat, memanasnya konflik geopolitik dunia, kenaikan harga energi, hingga perpindahan investasi ke negara-negara maju.
Ia mengatakan dampak dari kondisi tersebut paling cepat dirasakan masyarakat karena banyak kebutuhan di daerah masih mengandalkan pasokan dari luar wilayah serta barang impor.
“Ketika dolar naik, biaya distribusi ikut terdorong. Efeknya harga barang di tingkat konsumen juga mengalami kenaikan, mulai kebutuhan pokok sampai material, bangunan dan elektronik,” katanya, Rabu (20/5/2026).
Menurut Ahmad, Kalimantan Timur masih memiliki ketergantungan terhadap distribusi antar daerah untuk memenuhi sejumlah kebutuhan pangan dan barang konsumsi lain. Bahkan beberapa komoditas masih didatangkan dari luar negeri.
Akibatnya, perubahan kurs dolar sangat mempengaruhi harga jual di pasar karena biaya pengiriman ikut meningkat dan dibebankan kepada konsumen.
“Produk pangan dan kebutuhan rumah tangga cukup rentan terdampak sebab jalur distribusinya panjang. Saat ongkos logistik naik, masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan,” ujarnya.
Tak hanya sektor konsumsi, kondisi tersebut juga mulai memberi tekanan terhadap pembangunan daerah. Beberapa proyek masih menggunakan alat, teknologi, maupun material impor sehingga biaya pengerjaan ikut meningkat seiring pelemahan rupiah.
Sebagai pengamat ekonomi, Ahmad menilai kondisi ekonomi saat ini membuat daya beli masyarakat mulai melemah, terutama bagi kelompok menengah ke bawah yang harus menghadapi kenaikan pengeluaran harian tanpa diimbangi peningkatan pendapatan.
“Golongan masyarakat kecil tentu paling berat merasakan dampaknya karena kebutuhan terus naik sementara pemasukan belum tentu bertambah,” tuturnya.
Ia pun mengingatkan pemerintah daerah agar memperkuat ketahanan ekonomi lokal dan tidak terlalu bergantung pada faktor eksternal agar dampak gejolak global bisa ditekan.
“Daerah perlu memperkuat sektor produktif yang dekat dengan kebutuhan masyarakat sehingga tekanan ekonomi global tidak terlalu besar pengaruhnya,” pungkasnya. (RD)







Tinggalkan Balasan