SITUBONDO – Evita Sukma Wardani, warga Desa Mimbaan, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, mengembangkan usaha sayuran hidroponik di rumahnya.
“Setiap pagi saya mengecek tanaman selada dan pakcoy, setiap hari juga mengecek tingkat keasaman air supaya tanaman itu tetap sehat,” kata Evita, Sabtu (18/4/2026).
Melansir KOMPAS.com, Evita memiliki tiga instalasi hidroponik berupa meja tanam, yakni dua berukuran 4 x 2 meter dan satu berukuran 8 x 2 meter.
Tanaman selada yang dibudidayakan dapat dipanen setiap 30 hingga 40 hari, tergantung kondisi cuaca. “Jika cuaca terlalu dingin bisa berjamur di bagian daun, tetapi jika terlalu panas bisa busuk di akar,” ujarnya.
Dalam sebulan, ia mampu memanen rata-rata 80 kilogram selada. Raup jutaan rupiah Harga selada yang dijual berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 27.000 per kilogram. Dengan hasil panen tersebut, Evita bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp 2.000.000 per bulan.
“Saya jual selada paling murah Rp 25.000 dan yang tinggi Rp 27.000,” kata dia.
Menurut Evita, ada beberapa kunci dalam budidaya hidroponik, yakni menjaga tingkat keasaman air, memastikan nutrisi tanaman terpenuhi, serta kesabaran dalam merawat tanaman.
Ia mulai menjalankan usaha hidroponik sejak 2024 dan hingga kini masih bertahan dengan permintaan yang terus meningkat.
“Setiap hari bisa 15 sampai 20 kilogram permintaannya,” ujarnya. Evita menilai budidaya hidroponik relatif mudah dilakukan karena tidak membutuhkan lahan luas.
Bibit dan nutrisi tanaman pun dapat diperoleh dengan mudah, termasuk melalui pembelian secara daring. “Menurut saya ini sangat bisa dijadikan pekerjaan sampingan,” pungkas Evita. (RD)







Tinggalkan Balasan