MORFEM.ID, SAMARINDA – Upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk mendatangkan hujan melalui teknologi modifikasi cuaca (TMC) masih tertahan kondisi atmosfer. Tutupan awan yang tersedia dinilai belum cukup ideal untuk dilakukan penyemaian.
Padahal, Pemkot Samarinda telah menyiapkan skema teknis dan anggaran sebagai langkah antisipasi menghadapi kemarau panjang yang berpotensi semakin berat akibat fenomena El Nino.
Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan, pelaksanaan modifikasi cuaca sangat bergantung pada kondisi awan. Saat ini, awan yang terbentuk masih terlalu tipis dan belum terkonsentrasi sehingga belum memungkinkan untuk dilakukan penyemaian.
“Belum memungkinkan untuk dilakukan modifikasi cuaca karena awannya tipis dan tidak berkumpul,” kata Andi Harun, Senin (14/9/2026).
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari mitigasi pemerintah menghadapi ancaman kekeringan. Samarinda memiliki kerentanan terhadap persoalan pasokan air bersih, terlebih adanya pengaruh intrusi air laut yang dapat mengganggu sumber air baku.
Selain persoalan air, Pemkot Samarinda juga memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Seluruh posko pemadam kebakaran di tingkat kota maupun kecamatan tetap disiagakan. Pemerintah menargetkan waktu respons maksimal 10 menit untuk wilayah dengan jangkauan dekat dan 15 menit untuk lokasi yang lebih jauh.
Ancaman tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, hingga 11 September 2026 telah terjadi 165 kejadian karhutla dengan total area terdampak mencapai 344,43 hektare.
Kondisi ini membuat penanganan tidak hanya mengandalkan personel dan armada di darat. Pemkot juga terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Lanud Dhomber Balikpapan untuk memperkuat dukungan operasi udara, termasuk water bombing dan TMC.
Dukungan dari pemerintah pusat juga mulai diperkuat. Sebuah helikopter bantuan BNPB telah tiba di Bandara APT Pranoto, Sungai Siring, pada Selasa (8/9/2026) dan disiapkan untuk mendukung pemadaman karhutla melalui operasi water bombing.
Kehadiran armada udara tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran yang sulit dijangkau dari darat.
Andi Harun memastikan kesiapan operasi udara tersebut tidak membebani anggaran daerah karena dukungannya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Pesawat yang melaksanakan penyiraman melalui pesawat dan helikopter akan menyesuaikan terhadap perkembangan sampai kita nyatakan Samarinda relatif aman untuk kebakaran,” katanya.
Sementara itu, kesiapsiagaan di darat tetap dilakukan dengan melibatkan personel gabungan TNI, Polri, petugas pemadam, BPBD, serta relawan.
Pemkot Samarinda masih menunggu kondisi atmosfer yang lebih mendukung untuk menjalankan modifikasi cuaca. Di saat yang sama, langkah pencegahan dan penanganan karhutla terus diperkuat hingga kondisi kemarau dinilai lebih aman. (RD)







Tinggalkan Balasan